Tuesday, February 26, 2008

My Wonderful Journey in Australia

Tahun Baru lalu saya berlibur ke Australia bersama adik saya. Kami merayakan Natal & Tahun Baru disana, wuih baru kali ini merasakan Natal bersalju seperti di film-film. Di Australia dingin banget bo!

Disana, kami tidak hanya menetap di satu state, kami berpindah-pindah mulai dari Perth - ke Denmark - lalu ke Albania - ke Brisbane - lalu ke Sidney - lalu pulang melewati Denpasar.



Di atas adalah foto saya saat berada di Opera House pada malam hari, gedung berbentuk keong itu begitu indah, sampai2 suara sariosa itu terdengar sampai luar.



Ini foto saya bersama kangguru, lucu deh melihat mereka melompat2. Ada kangguru jantan yang lagi memasukkan anaknya ke kantung di perut lho!



Ini foto saya bersama koala. Mereka binatang yang pemalas sekaliii...!!! Disana saya memberi mereka makan daun mint (makanan favorit koala).



Di atas adalah foto saya bersama adik saya yang lucu, berlatar belakang kota Sidney di malam hari yang spektakuler!!!



Bule2 di sana ternyata very nice banget deh...!!!



Ini saat di Sidney Tower yang terkenal itu. Bangunannya tinggiiiiiiii..... sekali, sampai bisa liat Opera House dari atas situ deh.



Di atas adalah foto saya saat di Sidney Aquarium. Jauuuhh lebih bagus daripada Seaworld Jakarta lah! Ada ikan paus segala disana, tapi yang masih bayi.



Hal yang paling mengesankan adalah, saya duduk sebelah Dinna Olivia pas di PESAWAT!!!



Dan terakhir, saat di bandara, saya ketemu Muhammad Yunus!!! Sang peraih penghargaan Nobel!!! Langsung saya ajak foto deh!

Australia adalah benua yang menawarkan sejuta mimpi. Semua yang ada disitu eksotis, dan belum pernah kita lihat sebelumnya. Orang2 Aborigin disana begitu bahagia hidup berdampingan dengan orang2 keturuan Spanyol (persemakmuran). Orang2 bule-nya juga ramah2 begitu mengetahui saya berasal dari Indonesia. Mereka samasekali tidak mempermasalahkan agama saya apa dan apakah saya teroris atau bukan. Setiap saya bertemu mereka di jalan, mereka selalu akrab menyapa saya dengan teriakan, "Fuck you Moslems!!!"

Kalau kata adik saya itu artinya, "Selamat Datang di Australi!!!". Wah, benar2 negara yang ramah dan hangat, tidak sabar untuk kesana lagi kapan-kapan :)

Wednesday, February 13, 2008

Surat Saya untuk Masyarakat Film Indonesia

Masyarakat Film Indonesia (di antaranya adalah Riri Riza, Mira Lesmana, Nia Dinata, Shanty, dan Dian Sastrowardoyo) bilang, film Indonesia tidak akan bisa maju karena sensor dari LSF yang otoriter.

SALAH!!!

Saya yakin selama ini film Indonesia terhambat pertumbuhannya bukan karena LSF, tapi karena mayoritas sineas Indonesia:

- latah

- profit oriented dan bukannya ingin memberi pesan yang membangun

- tidak berani beresiko sehingga tidak total dalam membuat film (contoh: post-production house dianggap mahal dan hanya dipakai untuk iklan2, sehingga efek2 & animasi dalam iklan terlihat lebih bagus daripada efek2 dan animasi dalam film layar lebar)

- manja, tidak mampu kreatif menampilkan adegan yang simbolik atau “menampilkan sebagian untuk mewakili keseluruhan”, sehingga menyalahkan LSF untuk “merapikan” film mereka yang “berantakan”
Padahal, Hollywood sendiri sudah mulai sopan dalam film2 mereka. Tidak seperti dahulu, sedikit2 adegan telanjang, sedikit2 adegan seks.

- “Film-festival oriented”, sehingga film2 pun dibuat agar agak seragam dengan film-film yang ditayangkan di festival yang kebanyakan memang vulgar, bahkan sangat vulgar, untuk menarik perhatian juri festival film tersebut.

- terlalu terjebak oleh pujian “Film Indonesia itu eksotis” oleh orang2 luar. Padahal bagi orang Indonesia, tidak ada istilah “eksotis” bagi film2 yang berasal dari negara mereka sendiri.

- menganut paham modernisme yang salah. Berpikir bahwa gaya hidup modern berarti freesex. Padahal kota2 termodern di dunia seperti Israel melarang pemasangan billboard Lux yang terlalu mengekspos kulit sang bintang “Sex & the City”. Negara modern seperti Iran yang mampu membuat reaktor nuklir, memberi pinjaman lunak bagi pasangan2 muda untuk menikah, agar mereka tidak terjerumus ke dalam freesex. Australia sebagai salahsatu negara maju di dunia saja memprotes film “The Golden Compass” yang dianggap atheis dan menyudutkan agama Nasrani.

Saya hanya tidak ingin Indonesia ini menjadi negara yang sok demokratis, padahal negara2 pelopor demokrasi sendiri sudah membatasi rakyatnya demi kebaikan rakyat mereka sendiri.

Ada suatu fakta bahwa, volume belanja orang Indonesia (sebagai negara miskin-berkembang) terhadap barang mewah sudah melampaui volume belanja negara2 kaya-makmur seperti Inggris. Itulah Indonesia!


Monday, February 04, 2008

Dahulu di Surga



Aku paling suka melihat wajahmu, kamu lucu seperti kelinci
Aku merasa pernah melihatmu
Di surga kah?

Saat pipimu menggembung, saat kau berpura-pura sombong
Kalau aku menutup mataku aku pasti berbohong

Kutanyakan jalan kepadamu, “Apa kau tahu jalan yang tak berbelok?”
Kau menjawab, “Jalan yang berbelok lebih elok”, aku sudah tahu
Suaramu menggema aku sudah pernah dengar
Namamu renyah kusebut lincah kutulis

Aku merasa pernah mengenalmu,
Di surga kah?


(puisi buat seseorang)