Masyarakat Film Indonesia (di antaranya adalah Riri Riza, Mira Lesmana, Nia Dinata, Shanty, dan Dian Sastrowardoyo) bilang, film Indonesia tidak akan bisa maju karena sensor dari LSF yang otoriter.
SALAH!!!
Saya yakin selama ini film Indonesia terhambat pertumbuhannya bukan karena LSF, tapi karena mayoritas sineas Indonesia:
- latah
- profit oriented dan bukannya ingin memberi pesan yang membangun
- tidak berani beresiko sehingga tidak total dalam membuat film (contoh: post-production house dianggap mahal dan hanya dipakai untuk iklan2, sehingga efek2 & animasi dalam iklan terlihat lebih bagus daripada efek2 dan animasi dalam film layar lebar)
- manja, tidak mampu kreatif menampilkan adegan yang simbolik atau “menampilkan sebagian untuk mewakili keseluruhan”, sehingga menyalahkan LSF untuk “merapikan” film mereka yang “berantakan”
Padahal, Hollywood sendiri sudah mulai sopan dalam film2 mereka. Tidak seperti dahulu, sedikit2 adegan telanjang, sedikit2 adegan seks.
- “Film-festival oriented”, sehingga film2 pun dibuat agar agak seragam dengan film-film yang ditayangkan di festival yang kebanyakan memang vulgar, bahkan sangat vulgar, untuk menarik perhatian juri festival film tersebut.
- terlalu terjebak oleh pujian “Film Indonesia itu eksotis” oleh orang2 luar. Padahal bagi orang Indonesia, tidak ada istilah “eksotis” bagi film2 yang berasal dari negara mereka sendiri.
- menganut paham modernisme yang salah. Berpikir bahwa gaya hidup modern berarti freesex. Padahal kota2 termodern di dunia seperti Israel melarang pemasangan billboard Lux yang terlalu mengekspos kulit sang bintang “Sex & the City”. Negara modern seperti Iran yang mampu membuat reaktor nuklir, memberi pinjaman lunak bagi pasangan2 muda untuk menikah, agar mereka tidak terjerumus ke dalam freesex. Australia sebagai salahsatu negara maju di dunia saja memprotes film “The Golden Compass” yang dianggap atheis dan menyudutkan agama Nasrani.
Saya hanya tidak ingin Indonesia ini menjadi negara yang sok demokratis, padahal negara2 pelopor demokrasi sendiri sudah membatasi rakyatnya demi kebaikan rakyat mereka sendiri.
Ada suatu fakta bahwa, volume belanja orang Indonesia (sebagai negara miskin-berkembang) terhadap barang mewah sudah melampaui volume belanja negara2 kaya-makmur seperti Inggris. Itulah Indonesia!
Wednesday, February 13, 2008
Surat Saya untuk Masyarakat Film Indonesia
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

10 comments:
sabar git.. sabar..
Disampaikan dengan bagus sekali.
LSF, liberty security force???
otoriter, memang benar. tapi bukan berarti ga boleh kan?
bwt...sigit sentimen ama gw!! wohoo! terserah lo aja dah git...dasar "sigit"
-tom
@bat: hehehe... :) itu juga ngetiknya sambil ketawa-ketiwi kok (ngga deng, gak segitunya...)
@kram: makasih kram! oiya kram, ko gw malah lupa ngirim kartunama lo ya??? ni gw send lewat email.
@mo: anda salah dikit = liberty sex forces. "Gw sentimen ama lo???"
Hohoho..
Nonton Vivid aja deh...
~ade
Kalo kata gw sih ya bubarin aja. Quis custodiet ipsos custodes?
saya tidak setuju dengan anda:
nunc aut nunguam!
-tom
Terjemahan untuk...
@Ozzie:
quis custodiet ipsos custodes? = who's gonna watch the watchers?
(maksudnya adalah, ozzie menanyakan keadilan terhadap MFI yang bersikap sebagai "watchers", siapa yg akan mengawasi mereka?)
@tom:
nunc aut nunquam! = no & never!
(maksudnya adalah, tom sampai kapanpun tidak akan pernah setuju dengan MFI)
- terlalu terjebak oleh pujian “Film Indonesia itu eksotis” oleh orang2 luar.
sineasnya salah denger "film Indonesia itu erotis" trus mereka nganggapnya "akhirnya film kami masuk dalam jajaran sekelas holywood"
hahaha holywood... ngarepp
cieeeeee jadi inget tulisan ray yang tentang bagi2 kondom nich.....
Post a Comment