'Talk the Talk, but can you Walk the Walk?'
Oskar Trophy
Thursday, February 15, 2007
Wednesday, February 14, 2007
Omedetto Gozaimasu – Congratulations – Selamat (temennya Neil Armstrong)

Satu
‘Gimana kemaren sidangnya? > Alhamdulillah lancar.
Cie, udah lolos, eh lulus dong? > Ya, begitulah…
Wah, SELAMAT YA!!! > Makasii… makasii…’
Tapi entah kenapa, suaraku terdengar aneh.
Dua
‘Apa kabar terbaru dari Inggris? > Udah dapet email lagi, katanya tim gue masuk final.
Trus gimana? > Dapet runner-up. Tapi gak menang.
SeLAmaT yAa…!!! > Iya, makasih!
Entah ada apa dengan tenggorokanku, semua ucapan selamat itu terdengar tidak tulus. Bahkan oleh telingaku sendiri…
Mirr pun ingin berbicara dengan pohon. Tapi Hairy Otter tidak pernah bertemu dengan Ron Weasel. Dan belum sempat menanyakan, ‘Cintakah Dia Padaku?’
Pecinta dari Abad 21
Aku tahu aku sudah mengecewakanmu
Aku bertingkah seperti orang bodoh
Aku kira aku dapat hidup sendiri
Tapi sekarang, setelah melalui begitu banyak kepedihan
Saatnya aku untuk menghargai
Bahwa orang yang kau cinta, berarti lebih dari apapun
Begitu pula dengan kesedihan di hatiku
Padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin
Mengakhiri semuanya, dan meninggalkan selamanya
Apa yang terjadi sudah terjadi, rasanya sangat tidak enak
Apa yang tadinya membahagiakan sekarang menyakitkan
Aku takkan pernah mencintai lagi
Duniaku sudah berakhir
Aku harap, aku bisa membalikkan waktu
Karena sekarang semua kesalahan adalah milikku
Tak bisa hidup tanpa orang-orang yang kau cintai
Aku tahu kita takkan bisa melupakan masa lalu
Kau tak bisa melupakan cinta dan kebanggaan
Karena itu semua, membunuhku dari dalam
Semuanya, kembali ke kekosongan
Semuanya tergulung, tergulung, dan tergulung…
Semuanya, kembali ke kehampaan
Aku tetap murung, murung, dan murung…
Di dalam hatiku yang paling dalam
Aku tahu bahwa aku takkan bisa mencinta lagi
Aku kehilangan segalanya, segalanya…
Semua yang berarti bagiku, berarti di dunia ini…
[kembali ke ‘Aku harap’]
Tapi aku sudah masuk terlalu dalam
Kau tahu aku hanya orang bodoh bagimu
Kau buat aku terjerat di dalam jemarimu
Haruskah kau menundanya
Haruskah, haruskah kau?
Haruskah kau menunda-nunda dan melama-lamakannya?
Dari berbagai lagu.
Tuesday, February 06, 2007
Our Capital is Pulverized
Ada bayi korban banjir ngungsi ke rumahku. Akibatnya, para anggota keluarga (tapi jangan ngebayangin keluarga mafia atau yakuza) ngedatengin rumahku untuk melihat si bayi, yang bernama Harfi. Gabungan dari nama Harsya dan Fikri, dua kakak laki-lakinya. Tapi, nama Harfi ini sering dilafalkan ‘Harvey’ oleh Ibunya yang emang orang bule. Iya, tanteku yang mengadopsi memang orang bule dari Inggris. The name is Jessica.
Harfi ini memang lucu imut-imut nggemesin berpipi tembem walaupun saat pertama kali diadopsi badannya sangat kurus dan kecil! Entah kenapa, hanya dalam beberapa bulan tanteku berhasil membuatnya sehat dan berisi. Kenapa bule lebih ahli dalam mengurus anak? Apakah karena pendidikan disana lebih maju atau karena mereka memang lebih terbiasa untuk membaca buku seperti ‘Panduan Merawat Bayi Sehat’?
Aku sempet coba-coba ngetes si bayi dengan menjentikan jari di sebelah kiri dan kanan telinganya. Tapi kok tak ada reaksi? Hmm…
Kasihan sekali, karena sistem imunitas tubuhnya belum sempurna, hanya kerena salah susu saja tubuhnya bentol-bentoel. Hanya karena digigit nyamuk saja, mukanya bengkak-bengkak. Hanya karena sang Ibu pergi sebentar untuk mengurus sesuatu saja, dia sudah celingukan lalu menangis.
‘Harfi ku yang lucu (Harfi-ku??) jangan menangis. Tidurlah yang nyenyak oh sayang. Lalalalallalalalalalaa………..!!!!!!!!’
