Ini adalah tanggapan atas dikotomi antara komik komersil dan non-komersil, juga tanggapan atas komikus-komikus manja di Indonesia yang kerjanya menyalahkan pembaca mainstream, penerbit, dan pemerintah.
Saya bukan komikus, tapi marilah kita melihat di luar negeri (contoh: Jepang), para komikusnya sibuk memikirkan bagaimana cara membuat komik yang inspiratif, komik yang informatif, komik yang dapat mengubah cara pandang hidup orang banyak. Intinya adalah, komik yang memang dibuat untuk dibaca orang lain. Komik komik tersebut disukai, sehingga pada akhirnya laku terjual dan tetap menguntungkan industri.
Contoh, komik Naruto yang mengangkat tema persahabatan. Tema persahabatan ini mampu menggugah rasa kesetiakawanan sehingga banyak orang yang menyukai komik Naruto. Tema persahabatan ini sendiri tidak bisa dibilang sebegai bentuk komersialisme, karena ini tema baru. Komik pendahulunya seperti Dragon Ball adalah komik yang mengangkat tema "kekuatan". Bisa dibilang, Masashi Kishimoto sensei cukup gambling dengan mengangkat tema persahabatan ini, karena balum jelas nilai jualnya. Tapi toh berhasil.
Yang berbau komersil dari komik Naruto ini contohnya: sexy no jutsu, unsur mesum untuk menarik pembaca. Tapi silahkan saja survei ke 500 orang pembaca Naruto dan tanyakan kenapa mereka membaca komik itu, pasti jawabannya karena tema persahabatannya dan bukan karena sexy no jutsu nya.
Apa itu seni? Seni adalah hasil modifikasi dari ciptaan Yang Maha Kuasa, yang dibuat manusia untuk menyenangkan hati manusia lainnya, menginspirasi, atau bahkan sekedar untuk menghibur. Para seniman lukis membuat lukisan untuk menyenangkan hati orang yang melihatnya. Para seniman patung membuat patung yang mengundang decak kagum orang yang memandanginya. Jadi orang yang ngaku-ngaku membuat seni tapi hasilnya tidak bisa dinikmati orang lain bisa dibilang sebetulnya hasil karyanya adalah sampah, dan bukan seni.
Banyak orang sok seniman atau seniman wannabe yang sering mencemooh orang lain dengan kata-kata, "Ah, nggak ngerti seni loe...". Padahal, tidak ada orang yang tidak mengerti seni. Percayalah, semua orang mengerti seni. Yang tidak mengerti justru orang mengucapkan hal itu.
Contoh 2: komik X karya Clamp. Setiap halaman dari komik ini digambar dengan sepenuh hati dengan coretan tinta yang artistik dan desain yang memukau oleh para personel Clamp. Ini jelas adalah komik seni. Lalu apakah ceritanya bisa dimengerti? Bisa! Apakah komik ini menjual? Iya! Tema apakah yang diangkat oleh komik ini? Tentang takdir manusia dan filosofi takdir itu sendiri. Clamp jelas mempunyai idealisme sendiri mengenai takdir, dan mereka menuangkannya dalam komik ini. Tujuannya? Agar orang-orang yang membacanya dapat turut berpikir mengenai takdir: apakah kita harus pasrah ataukah menentukan nasib kita sendiri. Atau ekstrimnya: menyangsikan keberadaan takdir itu sendiri. Saya bukannya ingin membenarkan cara berpikir para personel Clamp, tapi saya ingin menyampaikan bahwa idealisme Clamp ini dapat disampaikan dengan cara yang artistik dan tetap menjual! Silahkan mengacu pada agama anda masing-masing mengenai definisi takdir.
Jika anda mencari unsur komersialisme dalam karya Clamp, lihat saja desain cowok-cowok ganteng yang memenuhi penokohan komik ini. Anggap saja unsur komersialisme ini adalah alat untuk menyampaikan idealisme Clamp ke masyarakat luas. Komersialisme bukanlah batu sandungan, tapi adalah batu lompatan untuk menyampaikan idealisme kita, untuk menyampaikan apa yang ada di pikiran kita kepada orang lain. Jika ada komik yang isinya susah dimengerti, itu berarti salah komikusnya karena tidak mampu menyampaikan sesuatu dengan baik. Jangan dijadikan alasan karena ini "komik seni" atau "komik idealis" dsb.
Sementara komikus disini sibuk mengeluh dan menyalahkan masyarakat yang lebih menyukai komik mainstream (calon pembaca kok disalah-salahin?), menyalahkan penerbit, dan menyalahkan pemerintah... komikus di luar negeri sibuk memanfaatkan komersialisme (yang katanya musuh idealisme itu) untuk menyampaikan idealisme mereka. Mereka berusaha bagaimana agar apa yang ada dalam khayalan mereka, seliar apapun itu, dapat tersampaikan dengan baik ke pembaca. Bagaimanapun juga pada dasarnya, komikus seharusnya menjadi duta media yang dapat membuat karya yang menginspirasi orang lain, menginformasikan hal-hal penting, atau minimal menghibur.
Sekarang mari kita ambil contoh dari dalam negeri: Is Yuniarto adalah seorang komikus komersial, anda semua pasti setuju dengan pendapat ini. Kemampuan marketing beliau pun tidak dapat diragukan lagi. Komik Garudayana buatannya adalah komik dengan tema umum, namun tetap dapat diambil pelajaran darinya: seperti Gatotkaca yang berumur masih belasan tetapi menanggung tanggungjawab sedemikian besar untuk memburu para Ashura. Apa yang umumnya dilakukan pemuda umur belasan yang ada di sekitar kita? = pacaran! Selain itu, sifat kesatria dan pemberani Gatotkaca juga patut dibandingkan dengan pemuda jaman sekarang: adakah pemuda jaman sekarang yang pemberani seperti itu? Pemberani, atau anarkis?
Ada teman saya yang menjual komik buatannya sambil mengatakan: "Ayo, dukung komik Indonesia!". Apa hubungannya antara membeli komik buatannya dengan dukungan terhadap komik Indonesia? Padahal, "komik Indonesia" itu sendiri variabelnya tidak jelas.
Urutannya adalah penetrasi terlebih dahulu, baru menyampaikan pesan. Tidak ada storyteller profesional yang seenaknya membuat cerita aneh tanpa penetrasi terlebih dahulu lalu seenaknya berharap orang lain akan mengerti atau mencoba mengerti. Penetrasi pun dapat dilakukan dengan jalan komersialisme. Atau ada cara lain? Silahkan mencoba, yang penting jangan menjadi komikus manja.
Tuesday, September 22, 2009
Jangan Jadi Komikus Manja
Monday, August 17, 2009
REVIEW FILM MERAH-PUTIH (BERSIIIHHH...!!!)
Seharusnya ini adalah film nasionalis yang menumbuhkan semangat kebangsaan. Tetapi dari awal film, yang disuguhkan dengan intens adalah rasisme dan SARA. Orang muslim digambarkan sebagai mayoritas yang dominan dan menindas. Dan sesuai dengan tipikal pemilu presiden kemaren, yang menjadi protagonis sesungguhnya adalah pihak yang tertindas.
Berikut saya rincikan the-so-called "tokoh-tokoh muslim" yang ada di film ini:
1. Soerono muncul sebagai tokoh pengikut (follower/supporter) yang manut-manut dan tidak penting (tidak penting karena dia mati di tengah cerita. Spoiler? Ah, anda tak perlu capek2 menonton film ini).
2. Marius (diperankan oleh Darius) digambarkan paling menyebalkan, spoiled, manja, dan paling pengecut. Nuff said.
3. Si gendut (lupa sapa namanya) digambarkan sebagai muslim yang percaya jimat dan menjahit potongan kertas Al-Qur'an di bajunya agar dia selamat di medan pertempuran. Dan langsung mati tertembak dengan konyol di adegan berikutnya.
4. Lukman Sardi (lupa dia berperan sebagai siapa) muncul sebagai sosok muslim yang indecisive dan tidak banyak berjasa.
5. Kapten/jendral dan bawahannya yang niat berperangnya hanya untuk "mati sahid - demi Allah" tanpa mempedulikan memenangkan perang ato nggak. Sangat... sangat... dangkal.
Kenapa dangkal? Patut dimaklumi, scriptwriternya memang bukan orang muslim. Ah, bahkan dia bukan orang Indonesia. Semua dialog yang ada di film ini dibuat dalam bahasa Inggris, yang kemudian diterjemahkan secara kasar ke dalam bahasa Indonesia untuk diucapkan oleh aktor-aktor film ini. Tak heran akting mereka tampak kaku, apalagi ditambah dengan penggunaan bahasa Indonesia baku yang bikin pegal.
Tokoh-tokoh yang ada di film ini tampak jarang terdengar mengucapkan kata "Indonesia" atau "RI". Mereka lebih suka menggunakan kata "Republik" atau "Demi Republik!", aneh bukan? Promosi ideologi demokrasi dalam film kemerdekaan?? Padahal dahulu tentara sekutu yang ingin menjajah kita, datang dengan membawa ideologi demokrasi loh...
Dari sisi tentara Belanda. Para aktornya tampak culun dan tidak gagah. Beberapa tampak kurus, dan jalan dengan tidak tegap. Jangan-jangan castingnya mementingkan wajah bule tanpa seleksi perawakan?
Film ini juga agak terinspirasi Saving Private Ryan. Tokoh utamanya sama-sama mantan guru. Dan di akhir cerita, para jagoan kita juga meng-ambush tentara musuh untuk meraih kemenangan. SPR banget...
Secara keseluruhan, film ini sebetulnya sangat lucu (atau lebih tepatnya: konyol). Saya dan teman-teman tertawa-tawa sepanjang film karena adegan-adegan yang tidak rasional, dan tidak ada yang protes. Mungkin karena penonton lain juga merasa film ini konyol. Sisanya, film ini bikin ngantuk dan bikin ingin cepat keluar dari gedung bioskop (saya lihat bahkan ada yang walkout di tengah film).
Memang sih, ledakannya tampil dahsyat (dan mantaap! juga inbox & derings), efek tembak-tembakannya realistis, sinematografinya baik (walau banyak long shot yang tidak pas di saat yang seharusnya kritis/genting). But that's all...
Merah-Putih? Mendingan nonton G.I.Joe kemana-mana... ayo tentara amerikaaaa...!!!!!!
Review Komik "Garudayana" oleh Is Yuniarto oleh Saya (bingung gak?)
Setelah sempet kehabisan komik ini saat mu beli di Gramedia, akhirnya dapet juga di toko buku Kharisma yang notabene tuh toko buku emang agak sepi.
Pertama kali melihat, kok komiknya tipis amat yaaaaaaaa......!!!!!!!! Harganya tetap Rp.12.500,- pula, tapi "kekecewaan" itu segera terobati begitu mengetahui ceritanya diselesaikan dengan baik dengan halaman yang agak sedikit itu. (dan ada kemungkinan bersekuel)
Ceritanya sendiri tentang Garuda yang diselamatkan oleh seorang cewek pemburu harta karun. Dalam perjalanannya menyelamatkan Garuda, si cewek pemburu harta karun itu akan bertemu dengan tokoh-tokoh wayang yang sudah sering kita kenal selama ini.
Gambarnya solid, karakternya hidup (walau dialognya agak kaku), ceritanya mengalir, panellingnya bagus, desainnya menarik, tapi sebetulnya Is Yuniarto boleh saja meng-hire background ilustrator untuk komik selanjutnya :)
IMHO
Gaya gambar dan joke yang disuguhkan sebetulnya terlalu ke-Jepang2an, tapi dalam beberapa tahun ke depan sepertinya akan terus berkembang. Kami tak sabar menunggu komik selanjutnya karya Is Yuniarto!
*btw, CMIIW, Is Yuniarto adalah orang Surabaya. Jadi, yang "kota-kreatif" tuh Surabaya dong, bukan Bandung :P
Review Komik "Anak Kos Dodol Dikomikin" oleh K.Jati oleh Saya oleh-oleh...
Ada yang udah baca komik ini? saya kebetulan liat di "New Release"nya Gramedia pas lagi liat2 buku. Gak masuk section komik, tapi dianggap novel.
Komiknya based-on novelnya AKD oleh Dewi Rieka. Yang gambar K.Jati. Ceritanya berkisar tentang kehidupan kos Mbak Dewi sehari2 di Yogya. Kebayang lah ya, komik yang isinya karakter cewek semua, digambar oleh cowok ;;)
Pas ngliat gambarnya, saya langsung terkagum-kagum dengan tekniknya yang solid. Gaya gambarnya based-on manga, tapi sudah menampilkan ciri khas K.Jati.
Dan oiya, di beberapa panel, bisa ditemukan gambar cewek yang tidak berpakaian (alias bugil). Harus diliat benar-benar baru keliatan, soalnya memang bukan point of view. Sepertinya komikusnya agak2 iseng dech. Berhubung teks di balon-teksnya juga ditulis sendiri, menjadikannya potensial untuk diisengin sang komikus seperti: tulisan "nenekmu" jadi "m*m*kmu", tulisan "It's cooking time" jadi "It's co*king time". Ada2 saja... -_-;
Dibandingkan dengan komik Indonesia lainnya selama ini, bisa dibilang komik inilah yang gambarnya paling bagus dan konsisten (menurut saya). Tapi sayang kurang ngebooming (mungkin karena formatnya bukan komik?). Saya tidak sabar ingin membaca karya K.Jati selanjutnya.
Dan oiya, Dewi, K.Jati, dan penerbitnya semua berasal dari Yogya. Berarti yang kota-kreatif tuh Yogya ya? bukan bandung :P
Saturday, May 09, 2009
Musuh utama orang Indonesia
Sebetulnya, siapa musuh utama orang Indonesia? Amerika? Mungkin... Malaysia?? Entahlah...
Tetapi tahukah anda musuh2 yang kecil dan tak kita sadari selama ini?
1. MSG dalam makanan. Siapa yang hobi makan mie instan? FYI, MSG adalah bahan kimia yang tak bisa dicerna, sehingga ia akan terus mengalir dalam darah kita. Jika MSG itu mengendap di otak, bayangkan betapa lemotnya kita harus berpikir dan menganalisa dengan endapan MSG yang selalu nempel kayak perangko itu.
2. Karbondioksida & monoksida. Selain bikin bodoh seperti MSG, jelas zat-zat ini dapat meracuni tubuh kita, merusak paru-paru, dan jangan lupa: banyak kasus orang meninggal karena lupa mematikan mesin saat memanaskan mobil di carport/garasi.
3. Asap rokok? Yeah tentu semua orang sudah tau ini, tapi menghentikan kebiasaan memang susah. Saran saya, minimal kalo mau ngerokok tu ya mbok ngumpet dulu. Jangan ajak-ajak orang lain jadi sakit juga dong. Selain itu jika anda menghabiskan Rp.10.000,- untuk membeli satu bungkus rokok per hari, sebulan anda akan menghabiskan Rp.300.000,-
Lumayan padahal seratus ribu-nya bisa buat makan mewah mewiah. Seratusnya lagi bisa buat ditabung, dan seratusnya lagi bisa buat disumbangkan ke Dompet Dhuafa untuk anak-anak yatim-piatu.
4. Bau sampah. Efeknya psikologis? Tetap saja ini mempengaruhi kualitas hidup orang-orang Indonesia.
5. Pewarna, perasa, dan pengawet dalam makanan. Jika anda belanja ke supermarket, jangan hanya sibuk memperhatikan tanggal kadaluwarsa. Perhatikan juga ingridients-nya. Produk yang bagus pasti tidak perlu memakai zat-zat additive.
Jangan lupa, anak-anak anda di sekolah selalu diserang dengan jajanan-jajanan tidak sehat macam ini! Lebih baik bawa bekal dari rumah setiap hari deh!!!
6. Alkuhol. Yang ini jelas, tidak baik bagi kesehatan, dan tidak baik bagi mental.
"Essence"? Ah itu kan permainan kata-kata saja. Essence ya mengandung alkohol juga lah.
"Minum wine adalah lifestyle"? Kalo kata saya: "Minum wine itu lifesucks!"
Bagaimanapun juga perbedaan kita manusia dengan binatang adalah "akal". Kalo sampe "akal" itu hilang (walau cuma sementara) karena alkohol, kita ngga ada bedanya sama binatang dong. Makan aja rumput sono gih..
7. Suara bising. Yeah, sementara di tempat lain orang berusaha keras untuk menghasilkan simfoni musik yang indah dan meningkatkan semangat hidup, kita malah mendengarkan suara yang hingar-bingar? Coba perhatikan efeknya bagi jantung anda, bagi kegelisahan anda, bagi ketenangan jiwa anda.
Suara bising ini terdiri dari musik sampah, musik cinta-cintaan hina, suara mesin motor/mobil berikut klakson-nya (yang suka dibunyikan dengan emosional), suara makian, ejekan, cacian, hinaan, celaan, pelecehan, dan umpatan.
8. Infotainment, gossip, doktrinasi, dan komunisme. Nonton infotainment: jelas, akan membuat orang merasa benar sendiri. Saat menonton infotainment orang akan dilegalkan untuk berkomentar macam-macam terhadap objek berita. Nggak takut kuwalat?
Gossip... sama saja dengan fitnah. Jika anda menyebarkan gossip, maka samasaja anda dengan menjelek2kan orang lain tanpa pengetahuan samasekali mengenai berita yang sebenarnya.
Doktrinasi: benarkah setiap orang harus melewati jenjang ini ==> sekolah, kuliah, kerja di tempat yang bagus, beli mobil, beli rumah, dst... ?? Jalan hidup setiap orang berbeda bukan? Ada yang habis sekolah langsung bekerja. Ada yang ingin berwirausaha. Ada yang ingin menjalani hobinya sebagai pekerjaan. Ada yang lebih memilih untuk naik kendaraan umum. Ada yang lebih memilih tinggal di rumah susun.
Hal ini berhubungan erat dengan komunisme: Kenapa semua orang harus pakai jeans? Kenapa semua orang harus pakai kaos hitam? Kenapa semua orang harus kuliah di itb? Kenapa semua orang harus tinggal di jakarta? Kenapa semua orang harus suka sepakbola? Kenapa semua orang harus berkulit putih? Kenapa semua orang harus berambut panjang-hitam-lurus? Kenapa orang tidak bisa menghargai perbedaan?? Padahal perbedaan itulah yang membuat hidup ini berwarna-warni...!!!
Itulah musuh-musuh utama orang Indonesia. Sesungguhnya musuh-musuh itu amat dekat. Dan bahkan sebagian ada dalam diri kita sendiri.
Thursday, January 01, 2009
Tommy February6 - L.O.V.E.L.Y. yume miru Lovely Boy (she means me)
aaahhhh... sungguh ceria dan full-colour.... candy-pinky-cutie everywhere... Saya suka Pokemon, saya suka lagu ini (ini lagu ost untuk movie 7). Call me freak, call me geek, call me nerd whatevah jah like... XD
sooooooooo cuuuuuutttteeeeee....... pikachu-nya (loh... kirain Tommy-nya??). Ya ampun itu si Tommy-nya berkacamata sinis mengiris-iris gitu hahaha... TWISTED!!!
oiyah, donlot lagu mp3 versi instrumental-nya disini (buat karaoke dan joget2 sendiri maksudnya)
liriknya disini
***
Possibly related posts:
