Sunday, April 23, 2006

Cinta

Love is a pure bliss

I, once, loved a girl

Who named so beauty
Whose eyes so beautiful
And smile so beautifully

I love her loves to this life
Which I love so much

And I'm,
Hoping so much that
She will loving me back
With all her beautiful ways

But, we are two lovers in completely
Different league

I don’t think my love will find a way

What is love, anyway, git?

Indah

Aku menemukan bunga yang sangat cantik di padang rumput
Tapi aku tak bisa mencabutnya dan menanamnya di kebunku
Bunga itu terlalu indah untuk kebunku yang gersang

Bahagia

Ada seorang pemikir yang mengurung dirinya di keterasingan
Untuk mempelajari cara membahagiakan menusia
Tapi, semakin dia mengurung diri, semakin dia lupa
Makhluk seperti apakah manusia itu

Bahkan dia sendiri tidak merasa bahagia karena kesendiriannya

Monday, April 10, 2006

Rallying Posts just like that Foul Mouthed Girl

Sekali gebrak 6 postingan langsung:

-Kisah Kantin Bengkok
-Komik Nyepet
-Main Voli
-Coba Tiru Mereka
-Zodiak dan Shio
-Batas


Need feedback.

Dimana? Dimana?

Pas lagi makan bareng temen2 di Kantin Bengkok, gw ngeliat 2 temen gue lewat: Miranti dan Rianti. Cerita dilanjutkan dengan slow-motion gerakan gue mengangkat tangan untuk melambaikan tangan dan getaran yang merambat keluar tenggorokan untuk menyapa salahsatu dari mereka:

‘Mentari!’

Uppsss…

(Lho, kok jadi ‘Mentari’ sih??!!!)

Temen gue yang lain udah pada ngeliatin, mencari-cari siapa yang gue sapa. Biar nggak malu, gue lanjutin aja pake nyanyi…

Mentari
Menyala di sini
Di sini, di dalam hatiku…

Gemuruhnya sampai di sini
Di sini, di urat darahku…

Di sini, di urat darahku…

Kimi wa Girlfriend (gurufuren)

Temen gue yg anak UKJ (Unit Kesenian Jepang) udah berkali-kali bolak balik terus-terusan bawa buku komik ini mulu. Karena penasaran, akhirnya buku itu gue rebut – boong deng – gue pinjem dan gue baca.

Begitu buka halaman pertama, gue udah langsung ketawa-ketawa sampai ngakak (eh, padahal halaman pertama kan paragraf undang-undang tentang pembajakan…). Yg punya buku, sama temen gue yang lain, kontan heran.

Ceritanya, si tokoh utama (cewek) baru masuk SMU. Dia belom pernah punya temen cewek, soalnya terbiasa dengan keadaan di rumah yang sodaranya laki-laki semua. Nah, kali ini dia udah punya bayangan, kalo dia bakal dapet banyak temen cewek. Tapi begitu berhadapan dengan mereka, apa yang ada di pikiran si doi berbeda banget dengan apa yang keluar dari mulutnya. Bukannya berkata-kata manis dan sopan saat menyapa kenalan baru, doi malah mengeluarkan perkataan yang menyinggung dan penuh dengan kesombongan.

Ini, pas yang lain mu karaokean dan doi pengen ikutan, secara tidak sadar doi malah bilang, ‘Kalian masih ya, ikutan kegiatan kampungan kaya gitu.’ (itu diucapkan dengan nada dingin). Alhasil, setelahnya tentu saja doi menyesal histeris sampai banjir air mata berlebihan. Karena gengsi, doi bukannya minta maaf tapi malah terus berpura-pura bersikap angkuh.

Temen gue penasaran sama apa yg gue ketawain, trus dia juga coba baca. Hening, lalu dia bilang, ’Elu banget ya git…’

Jlebb… aih, benar juga ya. Apalagi dia temen deket gue yang udah kenal gue sejak pertama masuk kuliah.

Hahaha, menertawakan diri sendiri nih?

‘V’ for Volleyball game

Duduk sendiri, termenung, nungguin temen. Eh, ada yang ngajakin main voli, ‘Mas, gabung yok, orangnya kurang satu nih.’ (‘Oke mbak…’)

Saya kan nggak ngerti main voli. Ngertinya juga prempoli (perempuan) dan lengkong (laki-laki). Biasanya selalu main basket. Nggak ngeh kalo voli pun setiap orang (mahasiswa) bisa gabung, kaya main basket. Gw kira tadinya yg main voli tu udah pada kenal semua.

Eh ada Judica alias Andi si anak perusahaan Boulevard. Sekarang dia rambutnya panjang kaya Annakin Skywalker ato Harry Potter di film ke-4.

Main voli tu ternyata posisinya digilir, 6 orang itu muter tukeran posisi smasher, alleyer, backer, center. Dateng-dateng, gue udah main disuruh servis. Bola melenceng, yang lain maklum. Kesempatan servis berikutnya gw tonjok aja tuh bola. Yah, berhasil lah, nyampe ke sebrang net. Kalo mu nyervis gaya nampar bola, dari ujung tangan sampe pundak bakal sakit. Tapi bola nyampe dengan mulus, cepat, dan dilayani ogah-ogahan sama lawan (takut soalnya).

Klo main voli lebih terasa keakrabannya. Sama-sama nggak bisa, bakal diketawain. Tapi tertawa bersama. Klo main basket biasanya mayoritas orang-orangnya teralu streng.

Kalo main sepakbola bikin sakit kaki, kepala, sama dada. Main voli bikin sakit tangan (sakit lho, bisa sampe bengkak). Main basket gak bakal sakit apa-apa. Kecuali klo main gak pake alas kaki di lapangan panas-panas sampe telapak kaki melepuh, robek, terus belum sembuh bener sudah dilepuhin lagi.

Mentor

Selama ini aku selalu merasa hidup sendiri, berusaha sendiri, tak pernah ada yang menghampiri dan menolongku. Mungkin aku ingkar, karena lidah tak bertulang (tapi jari buat ngetik kan bertulang…). Aku menginginkan mentor. Nabi Muhammad sudah tiada. Aku butuh mentor yang masih hidup, dan ada di dekatku. Yah, aku memang tak pernah mendapatkannya. Tapi aku ‘mendapatkannya’ secara tidak langsung. Aku menjadikan orang-orang di sekelilingku sebagai mentor. Mungkin anda pun bisa mencontoh orang-orang ini:

Si cablak luarbiasa dan cuek bodo amat plus kocak bersuara cempreng. Orang ini benar-benar cablak! Ngomong keras-keras gak puguh dengan suara cemprengnya yang lucu itu. Jadi sekalipun dia cerita serius, bawaannya tetep aja ketawa. Klo dia ngomong, suka ketawa sendiri. Tak masalah, toh orang lain terbawa ikut ketawa. Pernah waktu itu dia dengan ‘ramahnya’ ngajakin orang asing ikut main basket ama kita-kita. Padahal ‘orang asing’ itu adalah anak-anak SMA 5 yang kesel karena lapangan mereka kita dominasi tiap minggu. Si cablak dengan cueknya tetep aja pake bilang ‘terima kasih’ segala padahal si anak-anak 5 sudah sinis gitu tampangnya. Sementara gue udah ngiris-ngiris bawang…

Si ramah luarbiasa dengan murah senyum dan nggak pernah marah. Kalo ketemu orang pasti senyum, ketemu gue setiap hari juga tetep aja senyum lebar. Ngomongnya sopan, intonasi suaranya nggak pernah ninggi. Perhatian, peduli, ramah, baik hati. Sekalipun dia yang salah malah dia yang bilang ‘maaf’. Ke orang lain yang lebih muda sekalipun manggil ‘Mas’. Orang pernah bilang klo si ramah hidupnya kayak nggak punya beban. Dia benar-benar berbagi kebahagiaan. Aku merasa bahagia kalo berada dekat dengannya.

Si rajin tekun serius pekerja keras haus ilmu dan spontan. Klo ngedengerin orang ngomong, dahinya ampe berkerut-kerut dan ampe ngebenerin posisi duduknya berkali-kali. Dia nggak malu mengakui klo dia nggak tahu. Baik hati, spontan pada perkataannya, dan tak pernah menarik kembali kata-katanya, kebaikannya tulus. Pekerja keras dan haus ilmu sampai-sampai sering tepar. Selalu melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh, tak berharap mendapatkan imbalan kecuali kebaikan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Aku kagum padanya. Klo deket dia, gw jadi ikut semangat.

Mungkin aku terlalu mengoverestimate mereka. Tapi setidaknya saya bisa mengambil hal-hal yang baik dari mereka. Belajarlah dari si cablak, si ramah, dan si rajin. Carilah mentor-mentor anda sendiri.

Ini Klimaks dari Roadshow November – April

Baru-baru ini aku baru saja menyadari, kalau ternyata di dunia ini ada batasan yang tidak bisa kutembus, sekeras apapun aku berusaha, atau sesering apapun aku berlatih. Aku memang sudah ditakdirkan untuk menjadi orang yang seperti ini. Aku tak akan menjadi ‘Super Sigit’, atau Sigit++. Mungkin semua orang juga begitu, mungkin setiap orang memiliki batasan masing-masing yang tidak bisa ditembus.

Begitu mengetahui hal itu, gue sempet shock. Padahal cita-citaku sangat tinggi (dan semoga, mulia). Tapi ngumpul ama temen-temen masih bisa bikin gue tertawa, walau gaya ngomong gue jadi lempeng dan pandangan mata nggak fokus. Beberapa jam gue sempet bengong, merenung. Tapi besoknya gue udah bisa ceria lagi.

Ga tau malu? Punya kekurangan tapi masih bisa ceria? Hmm, banyak orang berpikir kaya gitu. Contoh: banyak orang yang bilang kalo si anu cantik tapi otaknya tak berisi. Lalu apakah salah kalo dia cantik? Wajah kan pemberian Allah. Klo misalnya si anu jelek dan bodoh, biasanya orang bakal cuek-cuek aja, gak komentar.

Jika ada seseorang yang berpenampilan menarik, tapi sebetulnya dia payah. Nah kan penampilan itu sebagai suatu pendongkrak nilai lebih baginya. Daripada udah payah trus penampilan payah… Tapi orang malah sering menghardik begini, ‘Huh, penampilan aja diurusin, skill ga seberapa…’. Kita hidup di lingkungan yang kejam.

Semua yang kulakukan, semua yang kulalui, hampir kurasa sia-sia. Tapi ngga juga. Klo seseorang aim for nilai 10, segagal-gagalnya masih bisa dapet nilai 8. Bagaimanapun juga, aku berubah. Aku merasa menjadi lebih baik. Tadinya kupikir aku bisa melakukan apapun, aku bisa menjadi apapun, tak ada batasan di dunia ini. Aku sempat berpikir kalau seseorang bisa hidup bahagia selamanya di dunia ini, dan itu adalah rahasia hidup yang akan saya cari dan temukan caranya. Tapi Sigit sudah terlalu sombong. Dan orang sombong akan mengalami flashback kejadian semua hal yang pernah dikatakan dan dilakukannya. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa, sekali lagi, aku mempunyai batasan.

I’m so sad. But I’ll keep on living my life.




(bener nggak inggrisnya?)