Siang itu aku membuka jendela rumah dan makan siang dengan tenang. Tiba-tiba saja gelap mencekam, dan hujan pun turun tak tertahankan. Bunyinya keras dan nyaring sekali, tidak seperti biasanya: “Bruk bruk bruk!” “Pletak pletuk!”
Saat kulihat keluar, es batu sebesar kerikil menghujani halaman rumahku. Aku langsung buru-buru ke lantai dua untuk menutup jendela yang tadi kubuka. Dari lantai dua, kulihat fenomena yang belum pernah kurasakan semenjak trend global warming menyeruak: hujan es batu (bukan hujan salju!) di bumi Indonesia.
Es batu itu sebesar kerikil. Bentuk dan ukurannya bervariasi, tapi yang paling besarnya lebih besar dari kelereng. Hembusan udara dingin sedingin kulkas membantuku untuk menjadi lebih gemetar ketakutan, “Apakah akan kiamat?”
Walau jendela sudah kututup, suara es batu yang terus-terusan menabrak jendela membuatku khawatir jendela itu tak akan kuat menahan sehingga akhirnya pecah. Di luar, es batu tersebut berpantulan di atap rumahku. Sebagian jatuh ke halaman, sebagian jatuh ke jalan. Yang jelas, jalan dan halaman sudah putih tertutup es batu. Aku pun buru-buru turun ke bawah lagi untuk menyelamatkan hewan peliharaan yang ada di halaman, untuk kumasukkan ke dalam rumah.
Saat sudah agak reda, kulihat atap carport ku bolong-bolong. Potongan dan serpihan hasil seperti ditabrak meteor kecil berserakan di lantai, dan mobil yang diparkir pun basah (dan mungkin penyok-penyok). Semoga hal ini tak terjadi lagi. Saya lebih senang jika yang turun hujan salju.
Pas udah reda, aku main-main deh. Horeeeee dingiiiiinnnnnnnnn.........!!!!!!!!!!
Anda percaya cerita ini? Hihihi... ;))
Sunday, March 30, 2008
Hujan Salju! Eh... Hujan ES BATU!!!
Thursday, March 20, 2008
Semoga Allah Mempertemukan Kami di Surga Nya
Ayah saya mungkin bilang ada orang tak bertanggungjawab yang seenaknya menurunkan mereka di dekat rumah kami. Tapi bagi saya, kunjungan selama 3 hari itu adalah sebuah berkah yang manis.
Dimulai pada suatu pagi saat saya akan pergi keluar rumah, mereka langsung menyambut saya di teras dengan tatapan mata yang membuat iba. Dua kucing kecil berwarna oranye-putih yang kembar mengeong-ngeong mengajakku berbicara. Mungkin karena mereka masih balita dan cadel, jadi saya tidak begitu memahami ucapan mereka. Tapi saya setengah yakin kalau kucing kembar yang lucu itu pasti berharap diberi makanan.
Peristiwa teras rumah yang dihuni oleh makhluk halus seperti kucing sebenarnya sudah sering terjadi. Geng kucing sekitar komplek perumahan Suryalaya memang menjadikan halaman depan rumah keluarga saya sebagai basecamp. Pernah ada kucing betina gemuk (nan hamil) yang tiduran berteduh di bawah payung yang saya buka untuk dijemur. Serasa lagi berjemur di bawah tenda aja tu kucing. Sehingga saat melihat 2 tamu baru itu, saya sudah tidak heran. Tapi karena yang berkunjung kali ini adalah anak kucing, tiba-tiba terlintas di benak saya untuk memelihara mereka. Tapi, bahkan dalam mimpi sekalipun, saya tahu itu tidak mungkin.
*****
Karena saya memelihara ikan mas.
Keset teras sudah basah dipipisi, tinggal menunggu kedua anak kucing itu untuk membuang sesuatu yang lebih besar. Karena itu saya tidak memberi mereka makan, selain karena mereka pasti akan balik lagi kalau diusir. Tadinya saya berpikir mereka akan segera pergi, seperti yang terjadi dengan banyak orang dalam hidupku.
Tapi saat saya pulang pada malam harinya, mereka sudah tidak ada. Mungkin karena hujan cukup deras, jadi mereka berteduh di suatu tempat, berdua. Atau mungkin sudah dibuang oleh seseorang di rumah saya. Namun saat saya sibuk memasukkan gagang kunci ke pintu depan, seseorang memanggil saya dari belakang.
Seekor kucing kecil, berdiri menyambut sambil mengeong seolah ternotifikasi oleh kepulangan saya. Kemudian, satu lagi. Satu lagi saudaranya muncul dari kegelapan ikut menyambut seorang laki-laki yang bahkan tidak memberi mereka makan.
Walau terlihat jinak, mereka agak ragu saat akan saya usap-usap. Tapi akhirnya mereka berdua duduk di kursi teras, bergantian saya elus-elus. Dan kursi teras ini akan menjadi tempat mereka saling ‘berpelukan’ sampai akhirnya mereka tiada.
Saturday, March 01, 2008
Look! What Love has done to ye...
Aku punya teman, teman sepermainan. Dan dia jatuh cinta kepada seorang wanita.

Ini gambar orangnya. Aslinya sih tidak seganteng itu. Cuma beda dikit (jauuuuhh!!!)

Dan ini adalah si cewek yang 'beruntung' itu. Sudah dapat diduga: gebetan sejuta umat!!
Mereka kuliah di tempat yang sama, dan berkegiatan yang sama (toh, disitulah mereka bertemu). Mungkin juga sebetulnya si cewek menaruh hati kepada teman saya yang cukup gencar mendekatinya (gencar? kampanye parpol kalee...).
Hanya saja teman saya ini gazebo (baca: gak zelas bo'), sehingga lowongan pun terisi oleh banyak applicant yang ngapply. Toh, hanya shortlisted candidate will be informed for further tests.
Dan Saya, sebagai penengah, harus menerima kenyataan untuk terus dirong-rong dan direngek-rengeki oleh teman saya ini, karena kebetulan saya kenal gadis itu (padahal saya gak dibayar!).
Apabolehbuat, saya hanya bisa bilang: "Tralala... trilili..."
