Thursday, March 20, 2008

Semoga Allah Mempertemukan Kami di Surga Nya

Ayah saya mungkin bilang ada orang tak bertanggungjawab yang seenaknya menurunkan mereka di dekat rumah kami. Tapi bagi saya, kunjungan selama 3 hari itu adalah sebuah berkah yang manis.

Dimulai pada suatu pagi saat saya akan pergi keluar rumah, mereka langsung menyambut saya di teras dengan tatapan mata yang membuat iba. Dua kucing kecil berwarna oranye-putih yang kembar mengeong-ngeong mengajakku berbicara. Mungkin karena mereka masih balita dan cadel, jadi saya tidak begitu memahami ucapan mereka. Tapi saya setengah yakin kalau kucing kembar yang lucu itu pasti berharap diberi makanan.



Peristiwa teras rumah yang dihuni oleh makhluk halus seperti kucing sebenarnya sudah sering terjadi. Geng kucing sekitar komplek perumahan Suryalaya memang menjadikan halaman depan rumah keluarga saya sebagai basecamp. Pernah ada kucing betina gemuk (nan hamil) yang tiduran berteduh di bawah payung yang saya buka untuk dijemur. Serasa lagi berjemur di bawah tenda aja tu kucing. Sehingga saat melihat 2 tamu baru itu, saya sudah tidak heran. Tapi karena yang berkunjung kali ini adalah anak kucing, tiba-tiba terlintas di benak saya untuk memelihara mereka. Tapi, bahkan dalam mimpi sekalipun, saya tahu itu tidak mungkin.

*****

Karena saya memelihara ikan mas.

Keset teras sudah basah dipipisi, tinggal menunggu kedua anak kucing itu untuk membuang sesuatu yang lebih besar. Karena itu saya tidak memberi mereka makan, selain karena mereka pasti akan balik lagi kalau diusir. Tadinya saya berpikir mereka akan segera pergi, seperti yang terjadi dengan banyak orang dalam hidupku.

Tapi saat saya pulang pada malam harinya, mereka sudah tidak ada. Mungkin karena hujan cukup deras, jadi mereka berteduh di suatu tempat, berdua. Atau mungkin sudah dibuang oleh seseorang di rumah saya. Namun saat saya sibuk memasukkan gagang kunci ke pintu depan, seseorang memanggil saya dari belakang.

Seekor kucing kecil, berdiri menyambut sambil mengeong seolah ternotifikasi oleh kepulangan saya. Kemudian, satu lagi. Satu lagi saudaranya muncul dari kegelapan ikut menyambut seorang laki-laki yang bahkan tidak memberi mereka makan.

Walau terlihat jinak, mereka agak ragu saat akan saya usap-usap. Tapi akhirnya mereka berdua duduk di kursi teras, bergantian saya elus-elus. Dan kursi teras ini akan menjadi tempat mereka saling ‘berpelukan’ sampai akhirnya mereka tiada.

4 comments:

Rizal Affif said...

...

Berat, Git.

Anonymous said...

Hmm, kok lo nulis gitu gw jadi tambah sedih ya...

Anonymous said...

Git, emang kucing bisa masuk surga ya?

-alby-

Kamojima said...

Wandatau juga ya saya...