Selama ini aku selalu merasa hidup sendiri, berusaha sendiri, tak pernah ada yang menghampiri dan menolongku. Mungkin aku ingkar, karena lidah tak bertulang (tapi jari buat ngetik kan bertulang…). Aku menginginkan mentor. Nabi Muhammad sudah tiada. Aku butuh mentor yang masih hidup, dan ada di dekatku. Yah, aku memang tak pernah mendapatkannya. Tapi aku ‘mendapatkannya’ secara tidak langsung. Aku menjadikan orang-orang di sekelilingku sebagai mentor. Mungkin anda pun bisa mencontoh orang-orang ini:
Si cablak luarbiasa dan cuek bodo amat plus kocak bersuara cempreng. Orang ini benar-benar cablak! Ngomong keras-keras gak puguh dengan suara cemprengnya yang lucu itu. Jadi sekalipun dia cerita serius, bawaannya tetep aja ketawa. Klo dia ngomong, suka ketawa sendiri. Tak masalah, toh orang lain terbawa ikut ketawa. Pernah waktu itu dia dengan ‘ramahnya’ ngajakin orang asing ikut main basket ama kita-kita. Padahal ‘orang asing’ itu adalah anak-anak SMA 5 yang kesel karena lapangan mereka kita dominasi tiap minggu. Si cablak dengan cueknya tetep aja pake bilang ‘terima kasih’ segala padahal si anak-anak 5 sudah sinis gitu tampangnya. Sementara gue udah ngiris-ngiris bawang…
Si ramah luarbiasa dengan murah senyum dan nggak pernah marah. Kalo ketemu orang pasti senyum, ketemu gue setiap hari juga tetep aja senyum lebar. Ngomongnya sopan, intonasi suaranya nggak pernah ninggi. Perhatian, peduli, ramah, baik hati. Sekalipun dia yang salah malah dia yang bilang ‘maaf’. Ke orang lain yang lebih muda sekalipun manggil ‘Mas’. Orang pernah bilang klo si ramah hidupnya kayak nggak punya beban. Dia benar-benar berbagi kebahagiaan. Aku merasa bahagia kalo berada dekat dengannya.
Si rajin tekun serius pekerja keras haus ilmu dan spontan. Klo ngedengerin orang ngomong, dahinya ampe berkerut-kerut dan ampe ngebenerin posisi duduknya berkali-kali. Dia nggak malu mengakui klo dia nggak tahu. Baik hati, spontan pada perkataannya, dan tak pernah menarik kembali kata-katanya, kebaikannya tulus. Pekerja keras dan haus ilmu sampai-sampai sering tepar. Selalu melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh, tak berharap mendapatkan imbalan kecuali kebaikan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Aku kagum padanya. Klo deket dia, gw jadi ikut semangat.
Mungkin aku terlalu mengoverestimate mereka. Tapi setidaknya saya bisa mengambil hal-hal yang baik dari mereka. Belajarlah dari si cablak, si ramah, dan si rajin. Carilah mentor-mentor anda sendiri.
Monday, April 10, 2006
Mentor
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

5 comments:
klo aku memilih diri sendiri sebagai mentor. seringkali waktu dibunuh dengan perbincangan antara aku dan diriku, memilih sebuah langkah yang kemudian dijalanin. entah itu nantinya berujung baik atau tidak, aku dan diriku tidak ambil pusing.
berbahagia dengan setiap pilihan yang diambil. dan tak perlu orang lain untuk hal ini, sebab yang tau aku hanya diriku... :)
Git, percayalah bahwa semua orang pasti punya masalah. sebahagia apapun dia di luar sana...
-arfah-
Bagaimanapun juga diri sendiri punya batas yang tidak akan kita ketahui
kalau tidak melihat orang lain fah. Semakin banyak kita mengenal
orang lain, semakin kita mengetahui manusia itu makhluk seperti apa,
yang tak lain adalah kita juga.
Thanks sarannya.
eh eh btw 3 org itu sapa aja sih??
Tampak kenal tapi tak yakin...
ade deh fan...
maksudnya ade???
Ade teman kita???
Hehe ayolah ksitau daku...
btw kok tau itu gw???
Post a Comment