Monday, April 10, 2006

Ini Klimaks dari Roadshow November – April

Baru-baru ini aku baru saja menyadari, kalau ternyata di dunia ini ada batasan yang tidak bisa kutembus, sekeras apapun aku berusaha, atau sesering apapun aku berlatih. Aku memang sudah ditakdirkan untuk menjadi orang yang seperti ini. Aku tak akan menjadi ‘Super Sigit’, atau Sigit++. Mungkin semua orang juga begitu, mungkin setiap orang memiliki batasan masing-masing yang tidak bisa ditembus.

Begitu mengetahui hal itu, gue sempet shock. Padahal cita-citaku sangat tinggi (dan semoga, mulia). Tapi ngumpul ama temen-temen masih bisa bikin gue tertawa, walau gaya ngomong gue jadi lempeng dan pandangan mata nggak fokus. Beberapa jam gue sempet bengong, merenung. Tapi besoknya gue udah bisa ceria lagi.

Ga tau malu? Punya kekurangan tapi masih bisa ceria? Hmm, banyak orang berpikir kaya gitu. Contoh: banyak orang yang bilang kalo si anu cantik tapi otaknya tak berisi. Lalu apakah salah kalo dia cantik? Wajah kan pemberian Allah. Klo misalnya si anu jelek dan bodoh, biasanya orang bakal cuek-cuek aja, gak komentar.

Jika ada seseorang yang berpenampilan menarik, tapi sebetulnya dia payah. Nah kan penampilan itu sebagai suatu pendongkrak nilai lebih baginya. Daripada udah payah trus penampilan payah… Tapi orang malah sering menghardik begini, ‘Huh, penampilan aja diurusin, skill ga seberapa…’. Kita hidup di lingkungan yang kejam.

Semua yang kulakukan, semua yang kulalui, hampir kurasa sia-sia. Tapi ngga juga. Klo seseorang aim for nilai 10, segagal-gagalnya masih bisa dapet nilai 8. Bagaimanapun juga, aku berubah. Aku merasa menjadi lebih baik. Tadinya kupikir aku bisa melakukan apapun, aku bisa menjadi apapun, tak ada batasan di dunia ini. Aku sempat berpikir kalau seseorang bisa hidup bahagia selamanya di dunia ini, dan itu adalah rahasia hidup yang akan saya cari dan temukan caranya. Tapi Sigit sudah terlalu sombong. Dan orang sombong akan mengalami flashback kejadian semua hal yang pernah dikatakan dan dilakukannya. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa, sekali lagi, aku mempunyai batasan.

I’m so sad. But I’ll keep on living my life.




(bener nggak inggrisnya?)

4 comments:

Anonymous said...

tapi tidak ada batasan untuk bermimpi kan, Git?

-arfah-

18november said...

beuh. tumben lo galau Git!

Kamojima said...

Benar, tapi gw jadi tukang mimpi terus nih...

Gw gak galau pi, gue kalem-kalem aja kok.

Anonymous said...

yah kebawa suram...
ga jadi ah komennya...