Anggap saja hidup ini dilambangkan dalam 3 fase. Pertama kau harus mengikat tali sepatumu. Kedua, kau berlari sekuat tenaga. Ketiga, kau menancapkan dan mengibarkan benderamu di garis finish.
Tapi aku takut, saat aku mengikat tali sepatuku, orang-orang sudah duluan berlari. Aku juga takut, saat aku baru mulai berlari, orang-orang sudah duluan mengibarkan bendera mereka. Yang paling aku takut, saat aku baru menancapkan bendera, orang-orang sudah tidak ada.
Sehingga aku tidak juga memulai mengikat tali sepatuku. Sekian lama waktu dihabiskan hanya untuk melihat sepatu itu belum bertali. Sebetulnya aku tahu benar apa yang harus aku lakukan, hanya saja aku tidak melakukannya.
Jika kau sudah memegang tali, gerakan menyimpul itu akan diteruskan dengan sendirinya. Akhirnya aku mengikat tali sepatu, dan mulai berlari. Ternyata, banyak orang-orang yang berlari bersamaku. Aku senang sekali, apalagi melihat mereka yang belum mengikat tali sepatu mereka di belakangku.
Proses berlari ini ternyata cukup lama. Aku berhenti untuk beristirahat. Aku duduk, lalu tiduran. Kepala yang tertekan saat tiduran membuat rasa takutku muncul lagi. Aku takut jika aku kembali melanjutkan berlari, orang-orang sudah mencapai garis finish. Posisi berdiri tanpa kepala tertekan sebetulnya akan membuat semangat muncul kembali. Tapi untuk bangun saja susah, karena semua khayalan buruk menemani tidurku.
Akhirnya aku pun tidak bangun, dan tidak melanjutkan berlari. Hanya tidur-tiduran juga cukup menyenangkan kok. Mereka yang sudah mengibarkan bendera, lalu apa? Begitu pikirku.
Tolong. Seseorang tolong bangunkan aku, ajak aku untuk kembali berlari, bersamamu. Ajak aku baik-baik, atau seret aku. Jangan biarkan aku terinjak-injak oleh pelari lain sementara aku tertidur.
Sekarang atau tidak samasekali. Sekarang atau tidak samasekali. Sekarang atau tidak samasekali. Dalam tidurku, aku berdoa semoga ada gempa yang bisa mengubah posisi tidurku menjadi berdiri. Tapi gempa itu malah terjadi di tempat lain.
Itu doa yang sangat buruk. Aku sungguh tidak ingin terjadi gempa. Aku pun bangun sendiri dan melanjutkan berlari. Sekalipun entah kapan aku bisa menancapkan benderaku. Entah bendera itu akan berkibar atau tidak setelah kutancapkan.
Aku berlari-lari lari-lari mengejar mobilku… bukaaan!!!
Kaki kiriku berlari mengejar kaki kananku yang duluan melangkah. Vice Versa.
Sunday, July 23, 2006
Just Do It
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

6 comments:
Git, perasaan kok mirip2 "Freedom" ya? hehe!
Iya ya, jadi inget...
Hattrick! 3 Sigit posting berturut2!!!
oi setannnnnnnn!
hehe.
Wonderful and informative web site. I used information from that site its great. »
Post a Comment