Ario, Birowo, dan Cokrowinoto adalah tiga serangkai yang sering belajar, bermain, dan berjalan bersama. Pada suatu majelis, Ario memperkenalkan seorang teman baru kepada Birowo dan Cokrowinoto. Orang itu bernama Zero. Void. Empty. Nothingness. Oblivion.
Zero mengaku bekerja di pemahatan gunung. Sebagian bangunan gunung di Madain Shalih adalah hasil karya Zero.
Mereka jarang bertemu, tapi setiap bertemu adalah saat-saat yang menyenangkan bagi mereka berempat. Zero memiliki apa yang tidak mereka miliki, dan mereka memiliki apa yang tidak Zero miliki.
Kedatangan dan kepergian Zero seperti hantu. Entah darimana dia dan entah pergi kemana dia. Suatu saat Cokrowinoto bertanya kepadanya, ‘Bagaimana kalau kau kenalkan kami ke teman-temanmu sesama pemahat gunung?’
Zero mengajak 5ony dan 9erry keesokan harinya. Mereka adalah para pemahat gunung. Tapi karena mereka tidak begitu cocok, Zero mengajak yang lain: 1van dan 7obias. Mereka adalah perancang bangunan, bukan pemahat. Walaupun begitu hasilnya vidak begitu berbeda, mereka dan Ario Birowo Cokrowinoto tidak saling cocok.
Setiap Zero dan Ario dan Birowo dan Cokrowinoto makan bersama, Zero sering menceritakan tentang orang-orang yang bernama 2uth atau 4isyah. Tentu saja karena hanya cerita bibir, Ario dkk tidak bisa membayangkan seperti apa 2uth atau 4isyah itu.
Sampai suatu saat, Birowo mempertanyakan keberadaan Zero. Zero yang terusik pun menghilang, seperti sebelumnya saja saat Ario-Bromor-Cokrowinoto masih tiga sahabat.
Birowo yang merasa bersalah berusaha mencari Zero kemana-mana walau dia sendiri tahu bahwa dia tak akan pernah menemukannya. Walaupun begitu, Ario Birowo dan Cokrowinoto tidak akan pernah melupakan Zero.
Void, empty, nothingness, but not really oblivious.
::
Monday, April 16, 2007
Daging, Tulang, dan Darah
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 comments:
sigit sigit, apa kabar?
yohoho baek baek...
hehe ada Batari. gw kira lo mu ngomenin ceritanya bat :)
Post a Comment