Derores memasuki sebuah bangunan tua, disana tiga orang temannya menunggu di ruangan gelap yang hanya diterangi sebuah bohlam bercahaya kuning kecil yang tergantung bersama kabelnya. Sosok tiga orang itu, yang memakai topi lebar, membentuk bayangan di tembok retak. Bayangan mereka bergoyang-goyang karena bohlam yang tergantung itu terayun-ayun ditiup angin kecil yang ikut masuk saat Derores membuka pintu.
Tapi Derores tidak langsung masuk ke ruangan tempat tiga orang itu menunggu. Dia tersesat ke sebuah ruangan dengan proyektor menyala yang menampilkan film tua. Tokoh utamanya yang rupawan tergambar di posterior Derores saat Derores menghalangi proyektor itu menembakkan gambar dengan benar di dinding putih.
Alih-alih menontonnya, Derores lebih tertarik untuk membuat bayangan-bayangan anjing atau kelinci dengan menghalangi jalannya sorotan cahaya proyektor. Tiga temannya yang menunggu terus-menerus mendorong sang bohlam agar berayun kembali saat seharusnya sudah diam.
Akhirnya satu dari tiga orang itu menelponnya, dan malah mendengar suara dialog film yang sedang Derores tonton di suatu ruangan bangunan itu. Derores tidak menjawab ‘halo’ tapi diam saja.
'Derores sayang, Derores manis, kenapa kau harus berlama-lama?'
Orang itu memutuskan untuk menyusulnya ke atas, sebagai seorang yang paling mengetahui seluk beluk bangunan. Menaiki tangga rapuh yang salah-salah malah mengantarkannya ke lantai paling bawah dan bukannya naik.
Dan benar, orang itu terjeblos lalu meninggal. Kali ini Derores yang menelponnya:
'Suamiku sayang, suamiku malang, kenapa kau harus berlama-lama?'
Love, Thy Will be Done
I can no longer hide
I can no longer run
No longer...
::

No comments:
Post a Comment