
Sequen adalah majalah tentang komik, yang berasal dari definisi komik oleh seorang pemerhati komik Amerika bernama Scott McCloud yang mengatakan bahwa komik adalah seni sequential.
Scott sendiri tidak membuat komik. Seperti halnya Hermawan Kartajaya atau Rhenald Khazali yang tidak mempunyai bisnis tapi menjadi konsultan bisnis. Bisa dibilang bisnis mereka adalah bisnis konsultan itu sendiri.
Saya tidak begitu menyukai ide tentang penggunaan definisi ini, karena saya mempunyai definisi sendiri terhadap komik. Apalagi penggunaan definisi ini sudah dianggap ilmiah. Saya benci yang ilmiah-ilmiah (untuk urusan seni). Relief pada dinding batu Candi Borobudur adalah seni sekuensial, tapi bukan komik.
Menurut saya, komik adalah "Bacaan yang didominasi gambar dalam panel sebagai bentuk lanjutan dari storyboard film yang dibuat sebagai pengganti film itu sendiri"
Sederhana kan? Apa, tidak?? (masa sih?!!!)
Melihat harganya, mahal: Rp.25.ooo. Sebandingkah dengan isinya? Tidak!
Tulisan2 yg terdapat di dalamnya terlalu opinis dan komik2 volunteer yang ditampilkan juga dibuat asal2an terkesan tak niat. Maklum, toh komik yang dimuat tidak menghasilkan uang. Majalah macam apa ini??
Jangan sampai majalah ini jadi kiblat bagi komikus Indonesia. Tapi apa daya sudah terlanjur: majalah ini menang sebagai majalah terbaik versi Kosasih Award.
Apa itu Kosasih Award juga saya tidak mengacknowledgenya karena saya tidak suka komik buatannya (R.A.Kosasih) yang saya bilang gambarnya jelek jujur saja ya maaf sekali (tanpa titik koma).
Maaf jika sekarang saya hanya bisa mengkritik dan mencaci. Tapi majalah ini memang asli payah.
Tuesday, September 18, 2007
Sequen
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 comments:
Si Dimas tu git suka baca Sequen..
BTW Git git, pakabar?? :)
Eiya si Dimas katanya masuk PR ya? PR minggu gitu?
Eh ini Fany apa bukan?
Post a Comment