
Di suatu desa yang sederhana, seseorang yang ahli berburu mengumpulkan anak-anak desa untuk diajari berburu.
Anak-anak desa itu begitu senang, beberapa dari mereka datang sambil membawa makanan dari rumah untuk sang guru ahli berburu sebagai rasa terimakasih. Bahkan ada yang membawa beras hasil panen untuk dipersembahkan kepada sang guru ahli berburu.
Pelajaran dimulai, mereka memasuki hutan bersama-sama. Sang guru yang ahli berburu mulai mengeluarkan busur yang ia miliki. Komat-kamit ia menceritakan kehebatan dirinya dalam berburu, lalu langsung menembak seekor kijang tepat sasaran. Semua anak desa bertepuk-tangan.
Setelah mengajari dasar dari berburu, sang guru ahli berburu meminta mereka untuk mencobanya. Dapat diduga, mereka semua payah, apalagi dengan tenaga anak kecil yang mereka miliki. Tapi, ada seorang anak yang berhasil memanah seekor harimau.
Semua melotot kagum, bahkan sang guru ahli berburu. Ternyata anak itu memang sudah sering latihan berburu bersama ayahnya. Dia iseng mengikuti pelatihan ini dengan harap bisa mendapatkan ilmu lebih.
Tiba-tiba sang guru ahli berburu berucap, “Kalau dia bisa, kenapa kalian tidak?!”. “Mulai sekarang kalian latihan sendiri, kalau ada apa-apa, baru panggil saya!!!”
Kalau ada apa-apa, kalau ada harimau memangsa seorang anak, baru panggil dia?
Anak-anak desa itu kecewa, wajah mereka terlihat sedih. Sang anak yang berhasil memanah harimau pun ikut kecewa karena tidak mendapatkan tambahan ilmu apa-apa dari sang guru ahli berburu. Beberapa ada yang pulang sambil menangis. Beberapa melanjutkan: ada yang telilit busur panah, ada yang memanah temannya sendiri, malah ada yang dimakan harimau.
Setiap mereka menanyakan sesuatu ke guru ahli berburu, sang guru malah menyalahkan mereka: “Kamu sih malas!”, “Coba kamu tanya ke ayahmu”, “Coba kamu tanya ke anak yang jago tadi”, “Tapi kamu bangga kan bisa belajar dari saya?”, “Sudahlah, yang penting kamu bisa pulang dengan selamat itu cukup…”
Di desa, sang guru ahli berburu berkoar-koar memamerkan muridnya yang berhasil menangkap harimau karena didikan dirinya. Ayah dari anak yang menangkap harimau itu diam saja. Sang guru ahli berburu juga berkata jika ingin anak kalian jago berburu harimau, datanglah padanya sambil membawa makanan dan sesajen.
Mungkin sejak awal, niat sang guru ahli berburu adalah mengumpulkan makanan dan sesajen dari anak-anak desa sekaligus memamerkan kehebatannya berburu… eh, berkoar-koar. Sungguh cerita yang menyedihkan dari desa yang sangat menyedihkan.
Friday, November 02, 2007
Institut Teknologi Berburu
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

6 comments:
Woi git!! Ini cerita maksudnya apa ya?
Kasian amat ada yang dimakan harimau.
Git, ikut lomba blog donc. BLog lo lumayan, menurut gue..
@adit: hmm, nyindir2 gitu deh...
@yessi: oiya? wah tenkyu! Pesta blogger dah lewat kmaren... Pengen sih.
Hm... kiasannya bagus git :)
Hm... kiasannya bagus git :)
Hm... kiasannya bagus git :)
Post a Comment