Seharusnya ini adalah film nasionalis yang menumbuhkan semangat kebangsaan. Tetapi dari awal film, yang disuguhkan dengan intens adalah rasisme dan SARA. Orang muslim digambarkan sebagai mayoritas yang dominan dan menindas. Dan sesuai dengan tipikal pemilu presiden kemaren, yang menjadi protagonis sesungguhnya adalah pihak yang tertindas.
Berikut saya rincikan the-so-called "tokoh-tokoh muslim" yang ada di film ini:
1. Soerono muncul sebagai tokoh pengikut (follower/supporter) yang manut-manut dan tidak penting (tidak penting karena dia mati di tengah cerita. Spoiler? Ah, anda tak perlu capek2 menonton film ini).
2. Marius (diperankan oleh Darius) digambarkan paling menyebalkan, spoiled, manja, dan paling pengecut. Nuff said.
3. Si gendut (lupa sapa namanya) digambarkan sebagai muslim yang percaya jimat dan menjahit potongan kertas Al-Qur'an di bajunya agar dia selamat di medan pertempuran. Dan langsung mati tertembak dengan konyol di adegan berikutnya.
4. Lukman Sardi (lupa dia berperan sebagai siapa) muncul sebagai sosok muslim yang indecisive dan tidak banyak berjasa.
5. Kapten/jendral dan bawahannya yang niat berperangnya hanya untuk "mati sahid - demi Allah" tanpa mempedulikan memenangkan perang ato nggak. Sangat... sangat... dangkal.
Kenapa dangkal? Patut dimaklumi, scriptwriternya memang bukan orang muslim. Ah, bahkan dia bukan orang Indonesia. Semua dialog yang ada di film ini dibuat dalam bahasa Inggris, yang kemudian diterjemahkan secara kasar ke dalam bahasa Indonesia untuk diucapkan oleh aktor-aktor film ini. Tak heran akting mereka tampak kaku, apalagi ditambah dengan penggunaan bahasa Indonesia baku yang bikin pegal.
Tokoh-tokoh yang ada di film ini tampak jarang terdengar mengucapkan kata "Indonesia" atau "RI". Mereka lebih suka menggunakan kata "Republik" atau "Demi Republik!", aneh bukan? Promosi ideologi demokrasi dalam film kemerdekaan?? Padahal dahulu tentara sekutu yang ingin menjajah kita, datang dengan membawa ideologi demokrasi loh...
Dari sisi tentara Belanda. Para aktornya tampak culun dan tidak gagah. Beberapa tampak kurus, dan jalan dengan tidak tegap. Jangan-jangan castingnya mementingkan wajah bule tanpa seleksi perawakan?
Film ini juga agak terinspirasi Saving Private Ryan. Tokoh utamanya sama-sama mantan guru. Dan di akhir cerita, para jagoan kita juga meng-ambush tentara musuh untuk meraih kemenangan. SPR banget...
Secara keseluruhan, film ini sebetulnya sangat lucu (atau lebih tepatnya: konyol). Saya dan teman-teman tertawa-tawa sepanjang film karena adegan-adegan yang tidak rasional, dan tidak ada yang protes. Mungkin karena penonton lain juga merasa film ini konyol. Sisanya, film ini bikin ngantuk dan bikin ingin cepat keluar dari gedung bioskop (saya lihat bahkan ada yang walkout di tengah film).
Memang sih, ledakannya tampil dahsyat (dan mantaap! juga inbox & derings), efek tembak-tembakannya realistis, sinematografinya baik (walau banyak long shot yang tidak pas di saat yang seharusnya kritis/genting). But that's all...
Merah-Putih? Mendingan nonton G.I.Joe kemana-mana... ayo tentara amerikaaaa...!!!!!!
Monday, August 17, 2009
REVIEW FILM MERAH-PUTIH (BERSIIIHHH...!!!)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

8 comments:
Jadi pengen nonton, nih. Membuktikan apa benar separah itu.
damn! salah strategi...
mending nonton film G.30S PKI deh. ahahaha
Iya salah strategi Git. Kalo lo bilang bagus gua malah jadi males hahaha.
ra'iye: ih tuh film lama bangget
ikram: bagus kok kram filmnya! Dariusnya cakep banget, lo pasti suka
Gw emang pengen liat Dariusnya sih Git. Hahaha.
Belom nonton nih :(
ntar Darius nya gapake baju gitu chi... nontonnya abis maghrib ya wkwkwkwkw
Post a Comment