Tuesday, September 22, 2009

Jangan Jadi Komikus Manja

Ini adalah tanggapan atas dikotomi antara komik komersil dan non-komersil, juga tanggapan atas komikus-komikus manja di Indonesia yang kerjanya menyalahkan pembaca mainstream, penerbit, dan pemerintah.

Saya bukan komikus, tapi marilah kita melihat di luar negeri (contoh: Jepang), para komikusnya sibuk memikirkan bagaimana cara membuat komik yang inspiratif, komik yang informatif, komik yang dapat mengubah cara pandang hidup orang banyak. Intinya adalah, komik yang memang dibuat untuk dibaca orang lain. Komik komik tersebut disukai, sehingga pada akhirnya laku terjual dan tetap menguntungkan industri.

Contoh, komik Naruto yang mengangkat tema persahabatan. Tema persahabatan ini mampu menggugah rasa kesetiakawanan sehingga banyak orang yang menyukai komik Naruto. Tema persahabatan ini sendiri tidak bisa dibilang sebegai bentuk komersialisme, karena ini tema baru. Komik pendahulunya seperti Dragon Ball adalah komik yang mengangkat tema "kekuatan". Bisa dibilang, Masashi Kishimoto sensei cukup gambling dengan mengangkat tema persahabatan ini, karena balum jelas nilai jualnya. Tapi toh berhasil.

Yang berbau komersil dari komik Naruto ini contohnya: sexy no jutsu, unsur mesum untuk menarik pembaca. Tapi silahkan saja survei ke 500 orang pembaca Naruto dan tanyakan kenapa mereka membaca komik itu, pasti jawabannya karena tema persahabatannya dan bukan karena sexy no jutsu nya.

Apa itu seni? Seni adalah hasil modifikasi dari ciptaan Yang Maha Kuasa, yang dibuat manusia untuk menyenangkan hati manusia lainnya, menginspirasi, atau bahkan sekedar untuk menghibur. Para seniman lukis membuat lukisan untuk menyenangkan hati orang yang melihatnya. Para seniman patung membuat patung yang mengundang decak kagum orang yang memandanginya. Jadi orang yang ngaku-ngaku membuat seni tapi hasilnya tidak bisa dinikmati orang lain bisa dibilang sebetulnya hasil karyanya adalah sampah, dan bukan seni.

Banyak orang sok seniman atau seniman wannabe yang sering mencemooh orang lain dengan kata-kata, "Ah, nggak ngerti seni loe...". Padahal, tidak ada orang yang tidak mengerti seni. Percayalah, semua orang mengerti seni. Yang tidak mengerti justru orang mengucapkan hal itu.

Contoh 2: komik X karya Clamp. Setiap halaman dari komik ini digambar dengan sepenuh hati dengan coretan tinta yang artistik dan desain yang memukau oleh para personel Clamp. Ini jelas adalah komik seni. Lalu apakah ceritanya bisa dimengerti? Bisa! Apakah komik ini menjual? Iya! Tema apakah yang diangkat oleh komik ini? Tentang takdir manusia dan filosofi takdir itu sendiri. Clamp jelas mempunyai idealisme sendiri mengenai takdir, dan mereka menuangkannya dalam komik ini. Tujuannya? Agar orang-orang yang membacanya dapat turut berpikir mengenai takdir: apakah kita harus pasrah ataukah menentukan nasib kita sendiri. Atau ekstrimnya: menyangsikan keberadaan takdir itu sendiri. Saya bukannya ingin membenarkan cara berpikir para personel Clamp, tapi saya ingin menyampaikan bahwa idealisme Clamp ini dapat disampaikan dengan cara yang artistik dan tetap menjual! Silahkan mengacu pada agama anda masing-masing mengenai definisi takdir.

Jika anda mencari unsur komersialisme dalam karya Clamp, lihat saja desain cowok-cowok ganteng yang memenuhi penokohan komik ini. Anggap saja unsur komersialisme ini adalah alat untuk menyampaikan idealisme Clamp ke masyarakat luas. Komersialisme bukanlah batu sandungan, tapi adalah batu lompatan untuk menyampaikan idealisme kita, untuk menyampaikan apa yang ada di pikiran kita kepada orang lain. Jika ada komik yang isinya susah dimengerti, itu berarti salah komikusnya karena tidak mampu menyampaikan sesuatu dengan baik. Jangan dijadikan alasan karena ini "komik seni" atau "komik idealis" dsb.

Sementara komikus disini sibuk mengeluh dan menyalahkan masyarakat yang lebih menyukai komik mainstream (calon pembaca kok disalah-salahin?), menyalahkan penerbit, dan menyalahkan pemerintah... komikus di luar negeri sibuk memanfaatkan komersialisme (yang katanya musuh idealisme itu) untuk menyampaikan idealisme mereka. Mereka berusaha bagaimana agar apa yang ada dalam khayalan mereka, seliar apapun itu, dapat tersampaikan dengan baik ke pembaca. Bagaimanapun juga pada dasarnya, komikus seharusnya menjadi duta media yang dapat membuat karya yang menginspirasi orang lain, menginformasikan hal-hal penting, atau minimal menghibur.

Sekarang mari kita ambil contoh dari dalam negeri: Is Yuniarto adalah seorang komikus komersial, anda semua pasti setuju dengan pendapat ini. Kemampuan marketing beliau pun tidak dapat diragukan lagi. Komik Garudayana buatannya adalah komik dengan tema umum, namun tetap dapat diambil pelajaran darinya: seperti Gatotkaca yang berumur masih belasan tetapi menanggung tanggungjawab sedemikian besar untuk memburu para Ashura. Apa yang umumnya dilakukan pemuda umur belasan yang ada di sekitar kita? = pacaran! Selain itu, sifat kesatria dan pemberani Gatotkaca juga patut dibandingkan dengan pemuda jaman sekarang: adakah pemuda jaman sekarang yang pemberani seperti itu? Pemberani, atau anarkis?

Ada teman saya yang menjual komik buatannya sambil mengatakan: "Ayo, dukung komik Indonesia!". Apa hubungannya antara membeli komik buatannya dengan dukungan terhadap komik Indonesia? Padahal, "komik Indonesia" itu sendiri variabelnya tidak jelas.

Urutannya adalah penetrasi terlebih dahulu, baru menyampaikan pesan. Tidak ada storyteller profesional yang seenaknya membuat cerita aneh tanpa penetrasi terlebih dahulu lalu seenaknya berharap orang lain akan mengerti atau mencoba mengerti. Penetrasi pun dapat dilakukan dengan jalan komersialisme. Atau ada cara lain? Silahkan mencoba, yang penting jangan menjadi komikus manja.

6 comments:

Anonymous said...

sama ga git sama musik?

maksud daku, banyak orang yang katanya "mengerti musik" menghina band2 melayu sebagai musik kacangan. padahal band2 itu dinikmati banyak orang lagunya. jadi pertentangan komersialisme dan idealisme lagi bukan?

tiffatora said...

wah, pandangan yang kritis, susah si ya kalo dah ditempa di boulevard ;p

makasi Sigiiit!! sudah menampar gw dan mengingatkan bahwa fleksibilitas itu perlu.

yiuuu...

ikram said...

Sodara-sodara, inilah cikal-bakal tesis Sigit.

sigit said...

ray: band melayu bagus2 kok, kayak Hijau Daun ato ST12... yg sibuk dengan pertentangan antara idealisme dan komersialisme sebetulnya hanya di Indonesia loh. Di luar perasaan nggak gitu deh.

Tiffa: he aku gak ditempa dimana2 kok hehehe (di boul gak aktip)

Kram: thesisku tentang animasi kram...

ted said...

kalo abis baca komik2 di Jepang selain yang terkenal (buat orang dewasa misalnya) mungkin kamu bisa berubah pikiran :)

tapi memang tetap menjual :)

sigit said...

komik dewasa kayak Monster ato 21 Century Boys? Saya juga baca kok. Selain 2 judul di atas juga saya sering lihat orang dewasa seperti pekerja kantoran pake jas-dasi lengkap baca komik di kereta, ya baca komik2 dewasa itu :)