Sekali gebrak 6 postingan langsung:
-Kisah Kantin Bengkok
-Komik Nyepet
-Main Voli
-Coba Tiru Mereka
-Zodiak dan Shio
-Batas
Need feedback.
Monday, April 10, 2006
Rallying Posts just like that Foul Mouthed Girl
Dimana? Dimana?
Pas lagi makan bareng temen2 di Kantin Bengkok, gw ngeliat 2 temen gue lewat: Miranti dan Rianti. Cerita dilanjutkan dengan slow-motion gerakan gue mengangkat tangan untuk melambaikan tangan dan getaran yang merambat keluar tenggorokan untuk menyapa salahsatu dari mereka:
‘Mentari!’
Uppsss…
(Lho, kok jadi ‘Mentari’ sih??!!!)
Temen gue yang lain udah pada ngeliatin, mencari-cari siapa yang gue sapa. Biar nggak malu, gue lanjutin aja pake nyanyi…
Mentari
Menyala di sini
Di sini, di dalam hatiku…
Gemuruhnya sampai di sini
Di sini, di urat darahku…
Di sini, di urat darahku…
Kimi wa Girlfriend (gurufuren)
Temen gue yg anak UKJ (Unit Kesenian Jepang) udah berkali-kali bolak balik terus-terusan bawa buku komik ini mulu. Karena penasaran, akhirnya buku itu gue rebut – boong deng – gue pinjem dan gue baca.
Begitu buka halaman pertama, gue udah langsung ketawa-ketawa sampai ngakak (eh, padahal halaman pertama kan paragraf undang-undang tentang pembajakan…). Yg punya buku, sama temen gue yang lain, kontan heran.
Ceritanya, si tokoh utama (cewek) baru masuk SMU. Dia belom pernah punya temen cewek, soalnya terbiasa dengan keadaan di rumah yang sodaranya laki-laki semua. Nah, kali ini dia udah punya bayangan, kalo dia bakal dapet banyak temen cewek. Tapi begitu berhadapan dengan mereka, apa yang ada di pikiran si doi berbeda banget dengan apa yang keluar dari mulutnya. Bukannya berkata-kata manis dan sopan saat menyapa kenalan baru, doi malah mengeluarkan perkataan yang menyinggung dan penuh dengan kesombongan.
Ini, pas yang lain mu karaokean dan doi pengen ikutan, secara tidak sadar doi malah bilang, ‘Kalian masih ya, ikutan kegiatan kampungan kaya gitu.’ (itu diucapkan dengan nada dingin). Alhasil, setelahnya tentu saja doi menyesal histeris sampai banjir air mata berlebihan. Karena gengsi, doi bukannya minta maaf tapi malah terus berpura-pura bersikap angkuh.
Temen gue penasaran sama apa yg gue ketawain, trus dia juga coba baca. Hening, lalu dia bilang, ’Elu banget ya git…’
Jlebb… aih, benar juga ya. Apalagi dia temen deket gue yang udah kenal gue sejak pertama masuk kuliah.
Hahaha, menertawakan diri sendiri nih?
‘V’ for Volleyball game
Duduk sendiri, termenung, nungguin temen. Eh, ada yang ngajakin main voli, ‘Mas, gabung yok, orangnya kurang satu nih.’ (‘Oke mbak…’)
Saya kan nggak ngerti main voli. Ngertinya juga prempoli (perempuan) dan lengkong (laki-laki). Biasanya selalu main basket. Nggak ngeh kalo voli pun setiap orang (mahasiswa) bisa gabung, kaya main basket. Gw kira tadinya yg main voli tu udah pada kenal semua.
Eh ada Judica alias Andi si anak perusahaan Boulevard. Sekarang dia rambutnya panjang kaya Annakin Skywalker ato Harry Potter di film ke-4.
Main voli tu ternyata posisinya digilir, 6 orang itu muter tukeran posisi smasher, alleyer, backer, center. Dateng-dateng, gue udah main disuruh servis. Bola melenceng, yang lain maklum. Kesempatan servis berikutnya gw tonjok aja tuh bola. Yah, berhasil lah, nyampe ke sebrang net. Kalo mu nyervis gaya nampar bola, dari ujung tangan sampe pundak bakal sakit. Tapi bola nyampe dengan mulus, cepat, dan dilayani ogah-ogahan sama lawan (takut soalnya).
Klo main voli lebih terasa keakrabannya. Sama-sama nggak bisa, bakal diketawain. Tapi tertawa bersama. Klo main basket biasanya mayoritas orang-orangnya teralu streng.
Kalo main sepakbola bikin sakit kaki, kepala, sama dada. Main voli bikin sakit tangan (sakit lho, bisa sampe bengkak). Main basket gak bakal sakit apa-apa. Kecuali klo main gak pake alas kaki di lapangan panas-panas sampe telapak kaki melepuh, robek, terus belum sembuh bener sudah dilepuhin lagi.
Mentor
Selama ini aku selalu merasa hidup sendiri, berusaha sendiri, tak pernah ada yang menghampiri dan menolongku. Mungkin aku ingkar, karena lidah tak bertulang (tapi jari buat ngetik kan bertulang…). Aku menginginkan mentor. Nabi Muhammad sudah tiada. Aku butuh mentor yang masih hidup, dan ada di dekatku. Yah, aku memang tak pernah mendapatkannya. Tapi aku ‘mendapatkannya’ secara tidak langsung. Aku menjadikan orang-orang di sekelilingku sebagai mentor. Mungkin anda pun bisa mencontoh orang-orang ini:
Si cablak luarbiasa dan cuek bodo amat plus kocak bersuara cempreng. Orang ini benar-benar cablak! Ngomong keras-keras gak puguh dengan suara cemprengnya yang lucu itu. Jadi sekalipun dia cerita serius, bawaannya tetep aja ketawa. Klo dia ngomong, suka ketawa sendiri. Tak masalah, toh orang lain terbawa ikut ketawa. Pernah waktu itu dia dengan ‘ramahnya’ ngajakin orang asing ikut main basket ama kita-kita. Padahal ‘orang asing’ itu adalah anak-anak SMA 5 yang kesel karena lapangan mereka kita dominasi tiap minggu. Si cablak dengan cueknya tetep aja pake bilang ‘terima kasih’ segala padahal si anak-anak 5 sudah sinis gitu tampangnya. Sementara gue udah ngiris-ngiris bawang…
Si ramah luarbiasa dengan murah senyum dan nggak pernah marah. Kalo ketemu orang pasti senyum, ketemu gue setiap hari juga tetep aja senyum lebar. Ngomongnya sopan, intonasi suaranya nggak pernah ninggi. Perhatian, peduli, ramah, baik hati. Sekalipun dia yang salah malah dia yang bilang ‘maaf’. Ke orang lain yang lebih muda sekalipun manggil ‘Mas’. Orang pernah bilang klo si ramah hidupnya kayak nggak punya beban. Dia benar-benar berbagi kebahagiaan. Aku merasa bahagia kalo berada dekat dengannya.
Si rajin tekun serius pekerja keras haus ilmu dan spontan. Klo ngedengerin orang ngomong, dahinya ampe berkerut-kerut dan ampe ngebenerin posisi duduknya berkali-kali. Dia nggak malu mengakui klo dia nggak tahu. Baik hati, spontan pada perkataannya, dan tak pernah menarik kembali kata-katanya, kebaikannya tulus. Pekerja keras dan haus ilmu sampai-sampai sering tepar. Selalu melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh, tak berharap mendapatkan imbalan kecuali kebaikan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Aku kagum padanya. Klo deket dia, gw jadi ikut semangat.
Mungkin aku terlalu mengoverestimate mereka. Tapi setidaknya saya bisa mengambil hal-hal yang baik dari mereka. Belajarlah dari si cablak, si ramah, dan si rajin. Carilah mentor-mentor anda sendiri.
Ini Klimaks dari Roadshow November – April
Baru-baru ini aku baru saja menyadari, kalau ternyata di dunia ini ada batasan yang tidak bisa kutembus, sekeras apapun aku berusaha, atau sesering apapun aku berlatih. Aku memang sudah ditakdirkan untuk menjadi orang yang seperti ini. Aku tak akan menjadi ‘Super Sigit’, atau Sigit++. Mungkin semua orang juga begitu, mungkin setiap orang memiliki batasan masing-masing yang tidak bisa ditembus.
Begitu mengetahui hal itu, gue sempet shock. Padahal cita-citaku sangat tinggi (dan semoga, mulia). Tapi ngumpul ama temen-temen masih bisa bikin gue tertawa, walau gaya ngomong gue jadi lempeng dan pandangan mata nggak fokus. Beberapa jam gue sempet bengong, merenung. Tapi besoknya gue udah bisa ceria lagi.
Ga tau malu? Punya kekurangan tapi masih bisa ceria? Hmm, banyak orang berpikir kaya gitu. Contoh: banyak orang yang bilang kalo si anu cantik tapi otaknya tak berisi. Lalu apakah salah kalo dia cantik? Wajah kan pemberian Allah. Klo misalnya si anu jelek dan bodoh, biasanya orang bakal cuek-cuek aja, gak komentar.
Jika ada seseorang yang berpenampilan menarik, tapi sebetulnya dia payah. Nah kan penampilan itu sebagai suatu pendongkrak nilai lebih baginya. Daripada udah payah trus penampilan payah… Tapi orang malah sering menghardik begini, ‘Huh, penampilan aja diurusin, skill ga seberapa…’. Kita hidup di lingkungan yang kejam.
Semua yang kulakukan, semua yang kulalui, hampir kurasa sia-sia. Tapi ngga juga. Klo seseorang aim for nilai 10, segagal-gagalnya masih bisa dapet nilai 8. Bagaimanapun juga, aku berubah. Aku merasa menjadi lebih baik. Tadinya kupikir aku bisa melakukan apapun, aku bisa menjadi apapun, tak ada batasan di dunia ini. Aku sempat berpikir kalau seseorang bisa hidup bahagia selamanya di dunia ini, dan itu adalah rahasia hidup yang akan saya cari dan temukan caranya. Tapi Sigit sudah terlalu sombong. Dan orang sombong akan mengalami flashback kejadian semua hal yang pernah dikatakan dan dilakukannya. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa, sekali lagi, aku mempunyai batasan.
I’m so sad. But I’ll keep on living my life.
(bener nggak inggrisnya?)
Friday, March 24, 2006
‘V’ for hugo weaVing
Berawal dari ajakan teman tuk menonton film ini yang katanya dibuat oleh pembuat yang sama dengan The Matrix Trilogy. Memang benar, Wachowsky Brothers memegang screenplay, tapi sutradaranya orang lain. Paling terlihat kemiripannya dengan The Matrix yaitu saat action tentu saja. Saat Guy Fawkes melempar pisaunya. Saat ledakan yang dislow motion. Juga berbagai pengambilan sudut pandang kreatif lainnya. Yang jelas bukan seperti pengambilan sudut pandang sok-sok keren dari seorang disiplin Cerahati Production yang terlalu mendominasi kelompok Audio Visual gue saat tugas bikin film. Atau seorang impostor yang cuma bisa marah-marah.
Ini film yang kutonton setelah terakhir kali nonton ‘Jomblo’. Kalo Jomblo ceritanya terlalu bodoh, seperti Jo… Nah ‘V for Vendetta’ ceritanya terlalu bergaya komik superhero, toh memang. Pembuatnya David nama keluarga, seorang Yahudi. Ceritanya sok-sok ngebelain Islam, dan ngejelek-jelekin Kristen. Entah ini Inggris jaman kapan, namanya jadi Inggris Raya. Pemerintahan dikuasai diktator yang berlambang salib dicoret (jadi garis horizontalnya ada dua). Muslim dan segala yang berhubungan dengannya dilarang di negara itu setelah peristiwa peracunan dengan senjata biologis oleh kaum Ekstrimis Religius terhadap ribuan warga Inggris. Padahal pelaku sebenarnya adalah Pemerintah Inggris sendiri. The Movie Team nastily create a Big Bang on Big Band at the end of the movie.
Film dimulai dengan dilarangnya merokok dan mengacungkan 2 jari tangan ke atas bagi para penonton. Jika penonton tetap melakukan hal tersebut, pertunjukan tidak akan dimulai.
Topengnya bagus, itu salahsatu alasan saya tertarik menonton film ini. Desain poster film ini tampak seperti poster-poster politik Polandia pada masa-masa Perang Dunia kedua. Kasihan sekali Hugo Weaving yang maen di The Matrix dan The Lord of the Ring tidak dimunculkan wajahnya samasekali sampai akhir film. Dicium Natalie Portman pun cuma di ‘bibir’ topengnya.
Habis nonton, makan es krim, trus jalan-jalan bareng temen-temen ke Rumah Mode seolah-olah dunia ini damai-damai saja. Minggu depan UTS 5 matakuliah teori plus tugas-tugas berat menumpuk!!!
Saturday, March 04, 2006
Thanks to…
Allah SWT > Terimakasih atas segalanya.
Nabi Muhammad SAW > Atas teladan akhlaknya yang mulia sehingga blog ini nggak berisi hal-hal aneh bin negatif.
Oskar > Yang menginspirasi saya pertama kali untuk membuat blog, juga menginspirasi atas isi blog tersebut. Jadi nggak cuma sekedar diary online.
Ikram > Yang mengajari saya cara bikin account blog di Blogger.com. Walau akhirnya saya lupa username dan passwordnya sehingga account blog itu hanyut begitu saja di lautan Blogger. Sampe 2 kali malah! Jadi blog ini yang ke-3. Juga terimakasih kepada Ikram atas ke-nggak-begitu-niat-an-nya mengajari saya cara melayout blog dengan Frontpage.
www.blogger.com > Thanks for the free account. Walau kadang ada spam.
El-Cid alias Al-Sid sang pahlawan perang Spanyol > Yang namanya dah dipake tuk alamat blog gue.
Upi > Yang cukup susah dimintai tolong ngedesainin layout blog gue sampe akhirnya gue males mengubah lagi desainnya karena sudah cukup puas dengan yang sekarang.
Tomo, Upi, Fany, Ani, Risa, Batari dan lainnya… > Yang udah rutin ngunjungi blog saya dan membaca postingan di dalamnya. Semoga bisa bermanfaat dan menghibur. :D
Pengunjung lainnya > Yang telah menyempatkan diri mengunjungi blog saya walau nggak pernah ninggalin comment. Contoh: si bodoh Jofa…
Para Blogger yang alamat blog-nya udah gw link > Walaupun sebetulnya gue seenaknya aja main nge-link. Juga terimakasih nggak protes walau di-link dengan nama aneh-aneh.
Aji, Donna, Oskar, Bayu, Ilham, Lucky, Chris, Bulbasaur > Yang udah bersedia fotonya dipajang di blog gue, walau tanpa izin. Hey, it’s illegal in some country you know!
Argyle di Brave Heart, peserta Takeshi Castle, pengemudi sekoci di Titanic > Yang kata-katanya pernah gue quote. Tapi klo yang I’m in a deep…dst itu gue bikin sendiri, nggak nge-quote.
Mbak mbak, dan nama-nama lain… > Yang pernah gue sebut-sebut di blog gue.
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad > Yang udah bersedia saya idolakan. Walau ‘idola’ dalam bahasa Inggris sebetulnya artinya ‘berhala’ (patung berhala). Perlu diingat, jika anda (pembaca) melafalkan Indonesian Idol, lafalkanlah Indonesyen AIDOL pake ‘O’. Jadi bukan ‘aidel’, karena itu berarti ‘pengangguran’. Contohlah Ryan Seacrest yang melafalkan American Aidol sampe mulutnya monyong-monyong…
Si Atheis Bill Gates yang wajahnya mirip temen gue Sigit > Yang udah menciptakan Aplikasi Microsoft Word untuk gue pake ngetik tulisan di blog ini sebelum gue upload.
Sigit Firmansyah > Yang udah ngajarin gue cara ngetik 10 jari. Walau sebetulnya Tim Penyusun Buku ‘Menguasai Komputer dan Linux’ yang dari Comlabs ITB nggak cuma dia.
J.K.Rowling, Pak Sapto guru SMA > Yang telah mengajari saya cara menulis yang benar.
Muhammad Isa Dawud > Yang mengajari saya cara menganalisis secara mendalam.
Eiichiro Oda > Yang udah mengajari saya kebebasan, keberanian, dan kenylenehan.
Semua tulisan di blog ini > Kalian sudah seperti anakku sendiri.
Mom > Yang udah ngijinin gue internetan pake Telkomnet Instan setiap bulannya dan ngebayarin iurannya. Thanks a lot mom. Appreciate…
Dad > Thanks for the blood.
Wednesday, February 15, 2006
Roy Suryo Pakar IT, Sigit Pakar Marketing
Di kepanitiaan Pasar Seni, gue masuk Tim Marketing. Tim ini yang akan mencari dana untuk pengadaan pasar seni. Katanya dana yang dibutuhkan adalah sekitar 2,7 Miliar Rupiah! Instead of membayar tenaga profesional, KMSR (Keluarga Mahasiswa Seni Rupa) malah merekrut anak-anak SR untuk pekerjaan ini. Saat gue bergabung – tentu saja – mereka gembira, karena mereka menganggap gue sebagai seorang ahli marketing entah darimana…
‘Git lu kan jago marketing…’
Oh yeah mentang-mentang Bapak gue kerja di Coca-cola, trus gue mahasiswa yang bawa mobil (Mobil Ibu gue: Starlet merah, warna coca-cola pula), tambah lagi gw selalu berpakaian necis dan dandy (dandendi, dandindundendo…), mereka lalu men-judge bahwa gue jago marketing. Anjirr… apa hubungannya coba…??
Sebelum Event Pasar Seni itu sendiri (yang masih lama), KMSR akan lebih dulu mengadakan Event Fun Racing. Dasar anak SR emang hobinya hura-hura. Event ini akan diadakan di seluruh jalanan Bandung. Bandung emang tempatnya hura-hura, tak terhitung banyaknya Event Fun Bike atau Fun Marathon yang pernah berlangsung. Pasti bikin macet jalan trus peserta maupun patrolinya suka rese. Kalau saya perhatikan, calon-calon pembalap-nya udah pada keliatan. Anak-anak SR tuh ada yang bawa Jeep Convertible, pernah ada yang bawa mobil modif ditempeli stiker-stiker stripe, ada juga yang punya mobil klasik buat balapan. Dan tak lupa, mobil Starlet merah Coca-cola gue, hahaha…
Dana yang terkumpul dari acara Fun Racing ini akan digunakan untuk nambah2in dana buat Pasar Seni. Apalagi Event ini diperkirakan akan menyerap labih banyak sponsor jika dibandingkan dengan Pasar Seni itu sendiri yang temanya ‘Tradisionil’, ih nggak menjual!
Saat rapat Tim Marketing, gue nanyain tentang gimana kepanitiaan yang bertanggungjawab atas Event Fun Racing yang keliatannya butuh Tim tersendiri ini.
‘Eh ntar yang ngurusin Event Fun Racing ini siapa? Kok keliatannya buat Pasar Seni aja kita udah empot-empotan kekurangan tenaga? Trus pendanaannya gimana? Padahal buat bikin proposal aja kita dananya kurang?’
‘Event apaan maksud loe?’
‘Ya Fun Racing, emang ntar event nya mau kayak gimana sih? Area balapan nya dimana?’
………………..
……………………..
………………………….
“FUND RAISING” KALI, SIGIIITTT…….!!!!!!!!!!!!!!’
Gubrakksss!!!
Oah ya ampun, astaga naga…
Semua langsung gubrak segubrak-gubraknya.
Tuh kan, ahli marketing apanya… Fund Raising (pengembangan dana) aja gw nggak ngerti…
Jadi sebetulnya paragraf 5 dan 6 postingan ini cuma khayalan gw doang…
Sunday, February 05, 2006
Gara-gara Oprah Winfrey
![]() | Salahsatu episode The Oprah Winfrey Show menampilkan komedian tenar Amrik yang meluncurkan buku miliknya berjudul ‘He’s Just not that into You’. Buku ini berisi tentang pemikiran psikis sang penulis terhadap hubungan pria-wanita. Maksudnya si penulis ingin memberitahukan lewat bukunya kalo seorang cowok deket sama cewek, nggak berarti cowok itu naksir sama si cewek. Kalo di-Indonesia-in kan seharusnya judulnya ‘Dia Nggak Begitu Saja Naksir Kamu (Tau!)’. Tapi ternyata buku ini masuk Indonesia dan judulnya menjadi ‘Cintakah dia Padaku’. Aihh…!!! |
‘De, lagi dimana? Nitip tolong beliin buku “Cintakah dia Padaku” dong…’
Kebetulan waktu itu gw lagi di Gunung Agung ama temen-temen gw abis main basket di Minggu siang yang tenang. Kakakku nitip tolong beliin buku tersebut. Karena judulnya yang nggak banget, gw jadi males dan malu tuk nyari ato nanyain bukunya. Tapi akhirnya terpaksa kulakukan…
Saat masuk ke Gunung Agung, aku langsung mencari ke bagian novel (waktu itu aku belum tau kalo itu bukan novel), nggak nemu. Ohya, cari aja ke BukuBaru atau BestSeller, nggak nemu juga. Berdasar dari gengsi, aku maksain nyari sendiri buku itu di rak-rak yang jumlahnya banyak. Nyarinya sampe menyipit-nyipit. Aduh kayaknya minusku nambah, ngga bawa kacamata lagi.
Akhirnya, aku memutuskan tuk nanya…
‘Ee… mas, “cintakah dia padaku?”’
‘Waduh kurang tau ya mas, coba tanya langsung aja ke orangnya…’
Tuh kan sudah kuduga, bakal susah nyari buku yang judulnya nggak banget kayak gini. Setelah itu, gw nanyanya ke mbak-mbak yang jaga.
‘Mbak, mbak, “cintakah dia padaku?”’
‘Aduh ngga tau ya mas, kok nanyanya ke saya siiihh…’
Lalu muka si mbak itu tiba-tiba memerah, dia menunduk, membalik badan, lalu pergi. Gyaaaaa!!! Bener kan?! Sejak awal emang aku udah males nyarinya, untung bukunya ketemu. Setelah ketemu, gw bawa ke kasir, gw bayar, trus gw langsung cabut dari situ!


