Tuesday, July 08, 2008

Orang Indonesia itu Bodoh ya?

Mungkin anda sering melihat iklan lotion/pemutih/pelembut/penghalus kulit untuk wanita di layar tv indonesia. Seringkali digambarkan, setelah si cewek di iklan itu sukses memakai produk lotion/pemutih/pelembut/penghalus kulit tersebut, cowok idamannya (atau cowok-cowok yang ada di sekitar doi) membelai atau meraba kulit si cewek untuk merasakan betapa mulusnya kulit si cewek. Intinya si cowok itu lalu ‘memegang-megang’ kulit si cewek itu. Loh, ini kan Indonesia

yang katanya memegang teguh adat ketimuran?


Coba bandingkan dengan iklan Lux yang dibintangi Rachel Weisz (pernah bermain di film The Mummy bersama Brendan Fraser) yang tentu saja dibuat oleh orang-orang Amerika. Adegan yang memperlihatkan ‘kemulusan kulit’ si Rachel hanya menampilkan sebatas tali-bahu gaunnya terlepas, lalu si Rachel itu sendiri yang membenarkan posisinya. Bukan tiba-tiba ada cowok yang membantu membenarkan tali-bahu si Rachel sambil curi-curi kesempatan untuk meraba-raba lengan mulusnya. Ingat, iklan ini buatan Amrik loh!


Sementara orang Indonesia yang katanya belajar demokrasi dari Amerika: si cowok dengan seenaknya dan tanpa etika memegang-megang kulit si cewek, bahkan ada iklan yang menampilkan si cowok sampai seluncuran di paha, punggung si cewek (dengan special effect tentunya).


Mana kreativitas dalam beriklan orang-orang Indonesia? Mana etika beriklan orang-orang Indonesia? Mana orang yang koar-koar kalo demokrasi harus ditegakkan di Indonesia? Mana orang yang koar-koar kalau kita harus memulai “gaya hidup modern” di Indonesia? Mana orang yang berkoar-koar untuk menegakkan kebebasan berekspresi di Indonesia? Makan tuh kebebasan berekspresi! Bodoh…


Iklan Dancow Coklat Berpengaruh Buruk Pada Anak

Anda tahu iklan susu Dancow coklat yang menampilkan beberapa anak sedang mendengarkan cerita di rumah pohon? Mungkin anda akan dengan mudah menyimpulkan bahwa tokoh utama iklan ini adalah si anak berambut keriting yang sedang bercerita. Dan si anak pemarah adalah tokoh antagonis. Tapi tunggu dulu! Ada yang salah dengan iklan ini. Karena menurut saya, si anak berambut keriting memiliki kepribadian yang membuatnya cocok untuk menjadi politikus di masa depan: jago ngomong panjang lebar tapi isinya nggak penting.


Sementara, justru si anak yang emosional dan tidak sabar adalah orang yang berpandangan lurus dan fokus dengan tujuannya. Saya tidak bilang bahwa si anak emosional ini akan menjadi sukses di masa depannya. Bisa saja masa depannya suram karena sifat emosionalnya. Sementara si anak berambut keriting justru (mungkin) akan sukses… secara material. Tapi tidak secara riil.


Lihat saja, si rambut keriting sudah sukses menjadikan dirinya sebagai tokoh utama iklan ini. Tapi coba pikir sekali lagi, benarkah si rambut keriting adalah tokoh utama yang patut dicontoh oleh banyak anak-anak yang melihat iklan ini? Tidak.


Saya tidak ngejudge. Tentu saja keduanya masih bisa berubah (toh mereka masih anak-anak). Si rambut keriting bisa mempergunakan keahlian ngebullshit-nya untuk menulis novel, sementara si emosional bisa mulai belajar untuk mengontrol emosinya dan lebih bersabar.


Tokoh manakah yang mirip dengan anda? Apa yang anda pikirkan sebelumnya saat melihat iklan ini? Apakah sekarang persepsi anda terhadap iklan ini sudah berubah? :)


Zaman Uedan

Ini adalah zaman saat...


Rakyat dilarang untuk mengeluh oleh pemimpin yang telah membuat kebijakan bodoh.


Para lelaki dilarang untuk terangsang oleh para wanita yang hobi tampil seksi di media.


Kaum muslimin dilarang untuk emosi oleh media massa barat yang menjelek-jelekkan dan memfitnah Islam.

Seseorang dilarang untuk tersinggung oleh si mulut kotor yang mengejeknya.


Wednesday, July 02, 2008

Hal yang Benar-benar tak dapat Dipungkiri

Ini adalah quotes favorit saya dari komik Onepiece

*dibaca dari kanan ke kiri










Eiichiro Oda pembuatnya adalah orang yang bebas. And so do I. I'm a freeman, indeed. 

Friday, June 27, 2008

Kartel Para Penyedia Layanan Seluler (Telkomsel, Indosat, XL)

Badan pemerintah mengungkapkan kejahatan kerjasama monopoli (kartel) antara para penyedia layanan seluler such as Telkomsel, Indosat, XL atas tarif SMS yang dimahalkan dengan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat. Diungkapkan tarif maksimal SMS seharusnya hanya Rp.75,- (itu pun penyedia layanan seluler sudah mendapatkan untung banyak), padahal selama ini kita membayar Rp.350,- dan bahkan kadang lebih untuk sekali ngSMS!!!

Lalu teman saya bertanya, ‘Kalo misalnya gw pemilik XL, lo pemilik Telkomsel git, pastinya lo mau juga kan untuk ber”kartel-ria” seperti itu?”

Saya jawab, “Tidak!”. Sebagai pemegang teknologi yang krusial untuk hajat hidup orang banyak saya tidak akan mengambil kesempatan demi memperkaya diri sambil membohongi masyarakat. Usaha seperti ini sudah seharusnya dibiarkan apa adanya demi berkembangnya arus informasi yang membawa kemajuan bagi negara. Padahal pemerintah berisik masalah dijualnya saham Indosat ke Qtel oleh Temasek, tapi sebetulnya Telkomsel yang katanya ‘milik bangsa’ saja gitu kelakuannya.

Sikap saya ini mungkin muncul karena kekesalan terhadap teknologi internet yang selama ini ‘disembunyikan’ dan dilepas sedikit demi sedikit oleh para provider sambil dipaketkan dengan harga mahal. Onno W. Purbo bilang, internet itu sebetulnya bisa murah dan lebih cepat dari yang ada sekarang ini.

Dan sikap saya ini adalah prinsip hidup yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Sama dengan prinsip Saya untuk selalu menghormati teman-teman Saya berikut benda-benda kepemilikan mereka.

Lebih baik Saya mati daripada harus kehilangan prinsip itu.

Saturday, June 14, 2008

Dunia

Benar!

Dunia yang harus dipilih untuk mencari alasan telah membentang luas di hadapan mata

Jika mimpi tiada akhir adalah pendamping kalian,

Maka lampauilah di bawah kibaran bendera tekad membara!





Yeiyeiyeiyeiyeeeeeeaaaaaaah……!!!!!!

Akibat Naiknya Harga Minyak Dunia, Tarif Ojek Pun Meningkat 33 Persen

Kasihan Cinta Laura... :(

Thursday, May 08, 2008

Obama Jokes Yo Mama

Obama Joke 1
(Obama & Amerika)


Barrack Obama baru saja tiba di bandara salah satu negara bagian di Amerika Serikat. Saat sedang berjalan melewati petugas keamanan, seorang polisi menghampirinya dan mulai menginterogasi Obama sesuai prosedur kemanan anti-teroris di bandara-bandara Amerika Serikat:

Polisi: “Permisi mas. Mas ini orang Arab ya?”

Obama yang memiliki kepribadian tegas langsung menjawabnya dengan sigap dan tangkas,

“Bukan, Saya blasteran.”

Polisi: “Oohh… mas ini Moslem bukan?”

Obama pun kembali menjawabnya dengan cepat dan tepat:

“Bukan, Saya sekuler.”

Polisi: “Oooohhh gitu…. Eh, kalo nggak salah, mas ini Barrack Obama yang sering muncul di tipi itu kan ya?”

Akibat terlalu antusias, Obama jadi salah jawab:

“Bukan, Saya bukan Obama.”

..........

Polisi: “Oh bukan? Kalo gitu mas ini siapa dong??”

Gengsi karena tadi sudah salah jawab, Obama berusaha untuk ngeles:


“Ehhhmmmm…… Saya Osama. Sodaranya...”



_________________________________________________


Obama Joke 2
(Masa Kecil Obama)


Ini bukan joke, tapi adalah kisah nyata masa lalu Obama saat bersekolah di Indonesia. Teman-temannya bilang, Obama tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia. Sehingga jika ada orang menjahilinya, dia hanya bisa bilang, “Curang!”. Teman masa kecil Obama pernah mengganti permen cabe kesukaan Obama dengan cabe beneran. Saat Obama memakannya dia kepedesan lalu lari mencari air sambil teriak-teriak curang!

Dan ini adalah pidato kekalahan Obama saat John McCain terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat berikutnya:


"Saudara-saudara, singkat saja yang ingin Saya sampaikan:


"Curang! Curang!!”



______________________________________________



Yo Alabama. I JUST realized that creating jokes isn't an easy matters. Well, creating one maybe easy, but creating a funny one is not an easy job at all. It's totally different thing when the idea was inside my head, and when I have to transfer it into a writing. I have to check & rechecked wether there's a word that may distract the reader's focus. I have to edit it all the way (it took me 2 days to create these two). I have to read it again and again while taking the reader's position, even the sceptical one. And finally, here it is, my first 'public' jokes, maybe. Hope it make you guys (and girls) laugh. Cheers! :D

Sunday, May 04, 2008

Boulevard Boulevard Boulevard

Sekali lagi aku kesal setelah pulang dari acara Boulevard. Mobil yang kubawa untuk mengangkut beberapa anak Boul jadi berantakan: tempat sampah yang ada di belakang tumpah berserakan karena mungkin ketendang ato kesenggol, isinya kemana-mana.

Itu tidak sengaja? Seseorang yang ikut di belakang malah menaruh bungkus coklat Beng-beng begitu saja di pegangan pintu mobil. Buset, gak punya etika banget. Ikram yang duduk di depan kerap membunyikan klakson seenaknya (baru 2 kali sih). Mungkin dia pikir itu lucu. Dia bilang, "Gue seneng banget mempermainkan emosi orang laen!"

"Oyea kram? Well, I don't want to hear 'that' from you!"

Ethan yang jadi sudah berbaik hati menjadi E.O. syukuran ultah Boulevard pun bertindak bodoh dengan menaruh kardus (entah isinya apa, klo gasalah kue) di atas kap depan mobil. Alhasil, kap itu jadi baret. Baret yang sangat besar. Seharusnya melihat keadaan ekonomi Ethan yang tampak 'cukup mampu/berada', sedikit banyak mengerti lah jika menaruh benda seperti kardus dapat membuat baret cat mobil. But I guess this one is pure ignorance, yet I'm still so upset.

Bukan ingin mengungkit, tapi sesuai kalimat pertama postingan ini: dulu juga pernah saya kesal dengan anak-anak Boulevard yang laen. Saat Aji dan Irfan ikut di mobil saya. Mereka terus menerus membuat saya kesal. Mereka tertawa girang sekali kalau saya menabrak atau menyerempet (dulu saya masih baru menyetir). Saat pulang pun, tidak ada ucapan terimakasih samasekali. Mereka turun begitu saja (boro-boro nyumbang buat parkir...).

Gak heran jumlah angkatan di Boulevard makin turun tiap tahunnya. Pada gak tahan kali ya. Kebodohan itu seolah jadi turun temurun, dan menular. Sebetulnya yang saya sebut di atas hanyalah oknum, tapi ya... udah kesel banget lah gue pokoknya.

Saturday, May 03, 2008

Hal yang tak Dapat Dipungkiri

Tahukah Anda, apa arti hidup ini?

Apakah untuk:

-fame?
-women? (or men, okay)
-money?
-honour?
-power?
-dominance?
-existence? (hadoh lupa gimana nulisnyah)
-to serve?
-or maybe, just to eat one scoop of rice every single day??

Karena semakin kita sibuk, mungkin saja kita semakin lupa tujuan awal. Mungkin kita harus berhenti sejenak. Klo kata orang, "dansa dulu bentar lah...".

Bukan berarti Saya tak mau uang, wanita, atau kehormatan dan ketenaran. I DO WANT IT ALL!!! GIMME SOME...
Tapi, Saya sering melihat orang yang sudah memiliki itu semua tapi hidupnya tidak bahagia. Sementara banyak orang Sufi yang hidup melarat (sederhana) tapi mengaku hidupnya bahagia. Oke, ini sudah sering dibahas. Tapi Saya memang belum pernah menemukan jawaban yang memuaskan. Ih, mehe-mehe deh...

"Para filsuf adalah orang-orang yang bingung..."

Mungkin kalimat di atas benar. Mungkin memang kita tidak perlu mengetahui arti hidup. Jalani saja lah. "Tuh Mbak Dian (Sastro), jalanin saja lah..."




Kembali ber-retorika: "Apa arti hidup bagi Anda?" :)