Mungkin anda sering melihat iklan lotion/pemutih/pelembut/penghalus kulit untuk wanita di layar tv indonesia. Seringkali digambarkan, setelah si cewek di iklan itu sukses memakai produk lotion/pemutih/pelembut/penghalus kulit tersebut, cowok idamannya (atau cowok-cowok yang ada di sekitar doi) membelai atau meraba kulit si cewek untuk merasakan betapa mulusnya kulit si cewek. Intinya si cowok itu lalu ‘memegang-megang’ kulit si cewek itu. Loh, ini kan Indonesia
yang katanya memegang teguh adat ketimuran?

Coba bandingkan dengan iklan Lux yang dibintangi Rachel Weisz (pernah bermain di film The Mummy bersama Brendan Fraser) yang tentu saja dibuat oleh orang-orang Amerika. Adegan yang memperlihatkan ‘kemulusan kulit’ si Rachel hanya menampilkan sebatas tali-bahu gaunnya terlepas, lalu si Rachel itu sendiri yang membenarkan posisinya. Bukan tiba-tiba ada cowok yang membantu membenarkan tali-bahu si Rachel sambil curi-curi kesempatan untuk meraba-raba lengan mulusnya. Ingat, iklan ini buatan Amrik loh!
Sementara orang Indonesia yang katanya belajar demokrasi dari Amerika: si cowok dengan seenaknya dan tanpa etika memegang-megang kulit si cewek, bahkan ada iklan yang menampilkan si cowok sampai seluncuran di paha, punggung si cewek (dengan special effect tentunya).
Mana kreativitas dalam beriklan orang-orang Indonesia? Mana etika beriklan orang-orang Indonesia? Mana orang yang koar-koar kalo demokrasi harus ditegakkan di Indonesia? Mana orang yang koar-koar kalau kita harus memulai “gaya hidup modern” di Indonesia? Mana orang yang berkoar-koar untuk menegakkan kebebasan berekspresi di Indonesia? Makan tuh kebebasan berekspresi! Bodoh…