Alias Betmen dibuat berbeda dengan pendahulunya oleh Christopher Nolan (ooww he’s my real hero!). Jika betmen yang dulu-dulu surrealis, yang ini dibuat agak realistis. Diceritakan dalam film ini dunia polisi yang korup, dan gangster yang berkeliaran di kota Gotham yang sudah tidak lagi gothic tetapi lebih menyerupai Washington DC. Jika anda sudah menontonnya, anda mungkin akan teringat dengan film-film Speed, Die Hard, dan Seven. Sementara adegan action si Betmen sendiri malah agak kurang. Sekalipun ada, adegannya terlalu gelap dan cepat (saya agak diseleksia). Si Joker pun kurang psycho. Mungkin karena pertimbangan surrealis-realis yang saya sebut di atas. Ah, saya tidak ingin membahas akting orang yang sudah jadi mendiang.
Kenapa Pemeran Rachel diganti?
Mungkin karena di film ini dia tidak menjadi pacar si Betmen, tapi pacar oranglain. Penonton selalu simpati terhadap tokoh utama (si Betmen), jadinya pemeran Rachel sengaja diganti dengan aktris yang gak begitu cantik kalo kata sayah-Maggie Gyllenhall-bener gak nulisnya? Agar penonton tidak kecewa. Dan juga karena satu alasan yang tak bisa saya tulis di blog ini. Terlepas dari gosip para fans tidak menyukai Katie Holmes pendahulunya.
Banyak Hal yang Ingin Disampaikan
Hanya saja, gaya penceritaan Nolan yang terlalu cepat membuat klimaks di beberapa scene menjadi bias. Ada Bruce yang ingin membuat Rachel cemburu. Ada ‘kemunculan pertama Joker’ yang seharusnya bisa lebih horror. Ada adegan ‘gedung-hancur’ yang bisa lebih dramatis. Ada jiwa sosial-kemanusiaan para sandera yang bisa lebih ditampilkan. Ada ‘rasa minder’ Betmen yang bisa lebih ditonjolkan. Even though, I still do think that this might be the best movie of the century. I wanna watch it again, and then buy the Original DVD.
Christopher Nolan? Who’s that??
Do-oh, ciri khas Nolan adalah gaya penceritaan yang cepat, nonlinier (banyak flashback), dan kamera goyangnya. Tau “The Prestige”? It’s one of my favourite collection on the DVD shelves. Ada yang bisa meminjamkan saya “Memento”? Belom nonton euy…
Harvey Dent for District Attorney
Saya mendapatkan gambar ini dari internet setahun yang lalu. Tepatnya tangal 9 Oktober 2007.

Pertama melihatnya, saya bingung ini kampanye apaan? Apakah hanya guyon, hoax, ato apa… karena saya merasa pernah melihat si ‘Harvey’ (Aaron Eckhart) entah di film apaa gitu. Dan semua itu terjawab saat saya nonton The Dark Knight. Ternyata gambar ini adalah bagian dari (apa namanya?) promosi (aduh suer deh gue lupa namanya, anak-anak periklanan lebih tau sebutannya) The Dark Knight.
Sebuah promosi yang sangat-sangat terselubung.
Tapi bukan teaser juga, itu beda lagi.
The Dark Nite
Kalau Ayat-ayat Cinta adalah film terlaris sepanjang sejarah film Indonesia, The Dark Knight mungkin akan menjadi film terlaris sepanjang sejarah film di Amerika. Kalo saya simpulkan, film ini menggelitik rasa keadilan yang ada di setiap diri kita. Walaupun tidak sepenuhnya akan menumbuhkan keberanian bagi orang yang ingin memperjuangkan rasa keadilan itu. Bagi orang yang mentalnya labil, justru mungkin akan terpengaruh oleh kegilaan The Joker dan malah mendukung teori kekacauan yang dikumandangkannya. Anda masih ingat peristiwa penembakan brutal oleh mahasiswa karena pengaruh game Grand Theft Auto? Ya, pada akhirnya, unsur realistis film ini justru membuat orang berpikir bahwa Joker dapat benar-benar ada sementara dia adalah penjahat fiktif buatan komikus Betmen. Nevertheless, bravo for Nolan and his brother, Chris Bale, Mike Cain, Gary Oldman, Morgan Freeman, Maggie Gylenhall, Harvey Dent… ups, I mean Aaron Eckhart, dan tak lupa: mendiang Heath Ledger :)