Saturday, August 16, 2008

4:44

Kubelikan tanaman hias yang indah untukmu

Kubelikan makanan yang enak untukmu


Aku jatuh sakit


Kau pun meninggal


Meninggalkanku untuk selamanya oh ikanku yang lucu…

Kuis ‘Masa Kalah Sama Anak Kecil’nya Helmi Yahya Terlalu Dangkal

Di kuis ini dipertandingkan antara artis-artis sebagai bintang tamu dengan anak-anak seumuran SD dalam menjawab soal. Soal-soal yang ditanyakan semuanya adalah soal-soal menyangkut pelajaran SD sehari-hari. Sehingga saat para artis itu kalah, mereka pun ‘merendah diri’ dan mulai memuji-muji bahwa anak-anak itu pintar dan lain sebagainya. Sampai ada yang berkata, “Aduh saya mah bodoh, udah lupa semua pelajaran kayak gini. Anak jaman sekarang mah pinter-pinter.” Dsb.

Yang Saya lihat, anak-anak yang tampil di acara itu semuanya diam seribu bahasa. Mereka bingung dengan apa yang sedang terjadi. Semua kejadian dan perbincangan didominasi oleh para orang dewasa. Saat menang pun mereka tidak bisa berekspresi apa-apa, bahkan sekedar untuk mengangkat tangan mereka dengan gembira. Mereka menelan mentah-mentah semua yang dijejalkan kepada mereka, termasuk pujian KOSONG yang merusak mental seperti, “Aduh, anak-anak ini pinter-pinter banget…”. Anak-anak itu hanya bisa bengong. Inikah generasi penerus bangsa? Anak-anak introvert yang PINTAR BAK SEBUAH ROBOT??!!!



Dalam acara ini digembar-gemborkan tentang pendidikan, dan juga bahwa ‘Anak-anak itu adalah generasi penerus bangsa’. Oiya? Jadi artis-artis yang ‘kalah’ itu bukan generasi penerus bangsa? Padahal banyak diantara mereka yang merupakan artis-artis muda, seperti: pesinetron muda, seorang aktor di seri OB, penyanyi muda, dan lain-lain. Yang benar-benar ‘generasi penerus bangsa’ ya orang-orang muda itu. Bukan anak-anak kecil yang masih SD. Setidaknya, BELUM!


Inilah budaya bangsa kita yang harus dihapus: saat kecil dibilangnya sebagai ‘generasi penerus bangsa’, tapi saat dewasa malah kembali menunjuk anak kecil sebagai ‘generasi penerus bangsa’. Jadi siapa sesungguhnya yang akan ‘meneruskan bangsa ini’?? Sekali lagi Saya ingatkan: bukan anak-anak kecil itu yang menjadi generasi penerus bangsa. Tapi ANDA! KAMU SEMUA, YANG SEDANG BACA TULISAN INI!!! Sekalipun umur Anda sekarang sudah 40, atau 50, sebelum nafas berhenti berhembus, kalianlah (para pemuda dan para orang dewasa) yang menjadi harapan dan penerus bangsa ini. Termasuk Saya.

Chaos Theory

Chaos Theory dalam Buku ‘Chaos Theory for Dummies’ dijelaskan sebagai efek kepakan sayap kupu-kupu di belahan bumi utara yang berpengaruh terhadap badai besar di belahan bumi selatan.


Chaos Theory menurut saya adalah membuat suatu peristiwa kecil yang memicu kekacauan untuk menimbulkan pertanyaan terhadap kemapanan yang sudah ada, sehingga keadaan akan menjadi lebih buruk sampai pada puncaknya, tapi pada akhirnya akan mengantarkan kepada keadaan yang lebih baik.


Dalam peristiwa kerusuhan Mei 1998 lalu, yang mempraktekkan Chaos Theory bukanlah para perusuh yang membakar pom bensin, mobil, dan lain-lain, tapi para mahasiswa yang berdemo menuntut turunnya Soeharto. Mereka mendobrak ‘kemapanan’ yang ada, kemapanan Orde Baru yang sebetulnya hanyalah kebohongan. Sementara peristiwa kerusuhan yang terjadi adalah “keadaan yang memburuk”, walaupun saya tidak tahu kapankah puncaknya dan kapankah keadaan yang lebih baik itu akan muncul.


Dalam film The Dark Knight, yang mempraktekkan Chaos Theory bukanlah The Joker, tapi Batman (Bruce Wayne). Dialah yang pertama kali mendobrak kemapanan, dialah yang tidak mengandalkan kepolisian Kota Gotham yang korup untuk membasmi para penjahat dan mafioso. Dan The Joker adalah “keadaaan yang memburuk”. Alfred sang pelayan setia pun berkata, “Keadaan akan selalu menjadi semakin memburuk sampai pada puncaknya, sebelum pada akhirnya semua akan menjadi lebih baik.” saat Bruce lagi down dan mempertanyakan aksinya sebagai Batman.


Dalam kasus tragedi September 2001, yang mempraktekkan Chaos Theory adalah Osama bin Laden. Karena semua orang tahu bahwa ‘kemapanan’ yang dibangun Amerika melalui ideologi demokrasinya adalah sebuah imperialisme modern yang terselubung. Peristiwa pemboman di Bali, Hotel JW Marriot, yang dilancarkan oleh orang-orang bodoh itu adalah “keadaan yang memburuk”. Dan keadaan pun masih semakin memburuk sampai sekarang, dan mungkin puncaknya adalah perang dunia ke-3.


Tapi Saya tidak begitu yakin bahwa membakar gedung sekolah adalah bentuk mempraktekkan Chaos Theory. Menurut Anda bagaimana?

Tuesday, July 22, 2008

The Dark Knight (with no spoiler)

Alias Betmen dibuat berbeda dengan pendahulunya oleh Christopher Nolan (ooww he’s my real hero!). Jika betmen yang dulu-dulu surrealis, yang ini dibuat agak realistis. Diceritakan dalam film ini dunia polisi yang korup, dan gangster yang berkeliaran di kota Gotham yang sudah tidak lagi gothic tetapi lebih menyerupai Washington DC. Jika anda sudah menontonnya, anda mungkin akan teringat dengan film-film Speed, Die Hard, dan Seven. Sementara adegan action si Betmen sendiri malah agak kurang. Sekalipun ada, adegannya terlalu gelap dan cepat (saya agak diseleksia). Si Joker pun kurang psycho. Mungkin karena pertimbangan surrealis-realis yang saya sebut di atas. Ah, saya tidak ingin membahas akting orang yang sudah jadi mendiang.

Kenapa Pemeran Rachel diganti?


Mungkin karena di film ini dia tidak menjadi pacar si Betmen, tapi pacar oranglain. Penonton selalu simpati terhadap tokoh utama (si Betmen), jadinya pemeran Rachel sengaja diganti dengan aktris yang gak begitu cantik kalo kata sayah-Maggie Gyllenhall-bener gak nulisnya? Agar penonton tidak kecewa. Dan juga karena satu alasan yang tak bisa saya tulis di blog ini. Terlepas dari gosip para fans tidak menyukai Katie Holmes pendahulunya.


Banyak Hal yang Ingin Disampaikan


Hanya saja, gaya penceritaan Nolan yang terlalu cepat membuat klimaks di beberapa scene menjadi bias. Ada Bruce yang ingin membuat Rachel cemburu. Ada ‘kemunculan pertama Joker’ yang seharusnya bisa lebih horror. Ada adegan ‘gedung-hancur’ yang bisa lebih dramatis. Ada jiwa sosial-kemanusiaan para sandera yang bisa lebih ditampilkan. Ada ‘rasa minder’ Betmen yang bisa lebih ditonjolkan. Even though, I still do think that this might be the best movie of the century. I wanna watch it again, and then buy the Original DVD.


Christopher Nolan? Who’s that??


Do-oh, ciri khas Nolan adalah gaya penceritaan yang cepat, nonlinier (banyak flashback), dan kamera goyangnya. Tau “The Prestige”? It’s one of my favourite collection on the DVD shelves. Ada yang bisa meminjamkan saya “Memento”? Belom nonton euy…


Harvey Dent for District Attorney


Saya mendapatkan gambar ini dari internet setahun yang lalu. Tepatnya tangal 9 Oktober 2007.


Pertama melihatnya, saya bingung ini kampanye apaan? Apakah hanya guyon, hoax, ato apa… karena saya merasa pernah melihat si ‘Harvey’ (Aaron Eckhart) entah di film apaa gitu. Dan semua itu terjawab saat saya nonton The Dark Knight. Ternyata gambar ini adalah bagian dari (apa namanya?) promosi (aduh suer deh gue lupa namanya, anak-anak periklanan lebih tau sebutannya) The Dark Knight.

Sebuah promosi yang sangat-sangat terselubung.

Tapi bukan teaser juga, itu beda lagi.


The Dark Nite


Kalau Ayat-ayat Cinta adalah film terlaris sepanjang sejarah film Indonesia, The Dark Knight mungkin akan menjadi film terlaris sepanjang sejarah film di Amerika. Kalo saya simpulkan, film ini menggelitik rasa keadilan yang ada di setiap diri kita. Walaupun tidak sepenuhnya akan menumbuhkan keberanian bagi orang yang ingin memperjuangkan rasa keadilan itu. Bagi orang yang mentalnya labil, justru mungkin akan terpengaruh oleh kegilaan The Joker dan malah mendukung teori kekacauan yang dikumandangkannya. Anda masih ingat peristiwa penembakan brutal oleh mahasiswa karena pengaruh game Grand Theft Auto? Ya, pada akhirnya, unsur realistis film ini justru membuat orang berpikir bahwa Joker dapat benar-benar ada sementara dia adalah penjahat fiktif buatan komikus Betmen. Nevertheless, bravo for Nolan and his brother, Chris Bale, Mike Cain, Gary Oldman, Morgan Freeman, Maggie Gylenhall, Harvey Dent… ups, I mean Aaron Eckhart, dan tak lupa: mendiang Heath Ledger :)

The Teacher-Haters Anthem

Wake up kids

We've got the dreamers disease

Age fourteen

They got you down on your knees

So polite

You're busy still saying please...


Frienemies

Who when you're down ain't your friend


The Snow Queen

Hari itu aku berjalan-jalan bersama Nares. Ia terlihat amat cantik (toh ia seorang model). Kami mengunjungi suatu tempat yang aku sudah tidak peduli lagi dimana atau kemana. Nares adalah seorang cewek yang dominan, lebih sering dia yang berbicara. Kadang dia curhat atau mengeluh, dan aku hanya mendengarkan sambil beriya-iya menyetujui. Seperti ritual jalan-jalan lainnya, kami pun berfoto. Aku duduk agak jauh, tapi dia memanggilku untuk duduk di sebelahnya dan lalu merangkulku. Kenapa terasa seolah-olah dia yang lebih mengayomi ya?

Entah kenapa, aku tidak begitu ingat kejadian-kejadian lainnya. Singkatnya, di akhir pertemuan dia kembali mengeluarkan uneg-unegnya dan aku hanya bisa mengiyakan. Akhirnya kami berpisah. Dia lalu menyodorkan kepalanya. Refleks, ku kecup dahinya… walau sambil melipat bibirku. Aku pun pergi. Bukankah ini seharusnya adalah jalan-jalan yang menyenangkan? Tapi kenapa aku merasa dingin, sedih, sekaligus pilu…??

Tuesday, July 08, 2008

Orang Indonesia itu Bodoh ya?

Mungkin anda sering melihat iklan lotion/pemutih/pelembut/penghalus kulit untuk wanita di layar tv indonesia. Seringkali digambarkan, setelah si cewek di iklan itu sukses memakai produk lotion/pemutih/pelembut/penghalus kulit tersebut, cowok idamannya (atau cowok-cowok yang ada di sekitar doi) membelai atau meraba kulit si cewek untuk merasakan betapa mulusnya kulit si cewek. Intinya si cowok itu lalu ‘memegang-megang’ kulit si cewek itu. Loh, ini kan Indonesia

yang katanya memegang teguh adat ketimuran?


Coba bandingkan dengan iklan Lux yang dibintangi Rachel Weisz (pernah bermain di film The Mummy bersama Brendan Fraser) yang tentu saja dibuat oleh orang-orang Amerika. Adegan yang memperlihatkan ‘kemulusan kulit’ si Rachel hanya menampilkan sebatas tali-bahu gaunnya terlepas, lalu si Rachel itu sendiri yang membenarkan posisinya. Bukan tiba-tiba ada cowok yang membantu membenarkan tali-bahu si Rachel sambil curi-curi kesempatan untuk meraba-raba lengan mulusnya. Ingat, iklan ini buatan Amrik loh!


Sementara orang Indonesia yang katanya belajar demokrasi dari Amerika: si cowok dengan seenaknya dan tanpa etika memegang-megang kulit si cewek, bahkan ada iklan yang menampilkan si cowok sampai seluncuran di paha, punggung si cewek (dengan special effect tentunya).


Mana kreativitas dalam beriklan orang-orang Indonesia? Mana etika beriklan orang-orang Indonesia? Mana orang yang koar-koar kalo demokrasi harus ditegakkan di Indonesia? Mana orang yang koar-koar kalau kita harus memulai “gaya hidup modern” di Indonesia? Mana orang yang berkoar-koar untuk menegakkan kebebasan berekspresi di Indonesia? Makan tuh kebebasan berekspresi! Bodoh…


Iklan Dancow Coklat Berpengaruh Buruk Pada Anak

Anda tahu iklan susu Dancow coklat yang menampilkan beberapa anak sedang mendengarkan cerita di rumah pohon? Mungkin anda akan dengan mudah menyimpulkan bahwa tokoh utama iklan ini adalah si anak berambut keriting yang sedang bercerita. Dan si anak pemarah adalah tokoh antagonis. Tapi tunggu dulu! Ada yang salah dengan iklan ini. Karena menurut saya, si anak berambut keriting memiliki kepribadian yang membuatnya cocok untuk menjadi politikus di masa depan: jago ngomong panjang lebar tapi isinya nggak penting.


Sementara, justru si anak yang emosional dan tidak sabar adalah orang yang berpandangan lurus dan fokus dengan tujuannya. Saya tidak bilang bahwa si anak emosional ini akan menjadi sukses di masa depannya. Bisa saja masa depannya suram karena sifat emosionalnya. Sementara si anak berambut keriting justru (mungkin) akan sukses… secara material. Tapi tidak secara riil.


Lihat saja, si rambut keriting sudah sukses menjadikan dirinya sebagai tokoh utama iklan ini. Tapi coba pikir sekali lagi, benarkah si rambut keriting adalah tokoh utama yang patut dicontoh oleh banyak anak-anak yang melihat iklan ini? Tidak.


Saya tidak ngejudge. Tentu saja keduanya masih bisa berubah (toh mereka masih anak-anak). Si rambut keriting bisa mempergunakan keahlian ngebullshit-nya untuk menulis novel, sementara si emosional bisa mulai belajar untuk mengontrol emosinya dan lebih bersabar.


Tokoh manakah yang mirip dengan anda? Apa yang anda pikirkan sebelumnya saat melihat iklan ini? Apakah sekarang persepsi anda terhadap iklan ini sudah berubah? :)


Zaman Uedan

Ini adalah zaman saat...


Rakyat dilarang untuk mengeluh oleh pemimpin yang telah membuat kebijakan bodoh.


Para lelaki dilarang untuk terangsang oleh para wanita yang hobi tampil seksi di media.


Kaum muslimin dilarang untuk emosi oleh media massa barat yang menjelek-jelekkan dan memfitnah Islam.

Seseorang dilarang untuk tersinggung oleh si mulut kotor yang mengejeknya.


Wednesday, July 02, 2008

Hal yang Benar-benar tak dapat Dipungkiri

Ini adalah quotes favorit saya dari komik Onepiece

*dibaca dari kanan ke kiri










Eiichiro Oda pembuatnya adalah orang yang bebas. And so do I. I'm a freeman, indeed.