Sunday, March 30, 2008

Hujan Salju! Eh... Hujan ES BATU!!!

Siang itu aku membuka jendela rumah dan makan siang dengan tenang. Tiba-tiba saja gelap mencekam, dan hujan pun turun tak tertahankan. Bunyinya keras dan nyaring sekali, tidak seperti biasanya: “Bruk bruk bruk!” “Pletak pletuk!”



Saat kulihat keluar, es batu sebesar kerikil menghujani halaman rumahku. Aku langsung buru-buru ke lantai dua untuk menutup jendela yang tadi kubuka. Dari lantai dua, kulihat fenomena yang belum pernah kurasakan semenjak trend global warming menyeruak: hujan es batu (bukan hujan salju!) di bumi Indonesia.



Es batu itu sebesar kerikil. Bentuk dan ukurannya bervariasi, tapi yang paling besarnya lebih besar dari kelereng. Hembusan udara dingin sedingin kulkas membantuku untuk menjadi lebih gemetar ketakutan, “Apakah akan kiamat?”



Walau jendela sudah kututup, suara es batu yang terus-terusan menabrak jendela membuatku khawatir jendela itu tak akan kuat menahan sehingga akhirnya pecah. Di luar, es batu tersebut berpantulan di atap rumahku. Sebagian jatuh ke halaman, sebagian jatuh ke jalan. Yang jelas, jalan dan halaman sudah putih tertutup es batu. Aku pun buru-buru turun ke bawah lagi untuk menyelamatkan hewan peliharaan yang ada di halaman, untuk kumasukkan ke dalam rumah.



Saat sudah agak reda, kulihat atap carport ku bolong-bolong. Potongan dan serpihan hasil seperti ditabrak meteor kecil berserakan di lantai, dan mobil yang diparkir pun basah (dan mungkin penyok-penyok). Semoga hal ini tak terjadi lagi. Saya lebih senang jika yang turun hujan salju.



Pas udah reda, aku main-main deh. Horeeeee dingiiiiinnnnnnnnn.........!!!!!!!!!!



Anda percaya cerita ini? Hihihi... ;))

Thursday, March 20, 2008

Semoga Allah Mempertemukan Kami di Surga Nya

Ayah saya mungkin bilang ada orang tak bertanggungjawab yang seenaknya menurunkan mereka di dekat rumah kami. Tapi bagi saya, kunjungan selama 3 hari itu adalah sebuah berkah yang manis.

Dimulai pada suatu pagi saat saya akan pergi keluar rumah, mereka langsung menyambut saya di teras dengan tatapan mata yang membuat iba. Dua kucing kecil berwarna oranye-putih yang kembar mengeong-ngeong mengajakku berbicara. Mungkin karena mereka masih balita dan cadel, jadi saya tidak begitu memahami ucapan mereka. Tapi saya setengah yakin kalau kucing kembar yang lucu itu pasti berharap diberi makanan.



Peristiwa teras rumah yang dihuni oleh makhluk halus seperti kucing sebenarnya sudah sering terjadi. Geng kucing sekitar komplek perumahan Suryalaya memang menjadikan halaman depan rumah keluarga saya sebagai basecamp. Pernah ada kucing betina gemuk (nan hamil) yang tiduran berteduh di bawah payung yang saya buka untuk dijemur. Serasa lagi berjemur di bawah tenda aja tu kucing. Sehingga saat melihat 2 tamu baru itu, saya sudah tidak heran. Tapi karena yang berkunjung kali ini adalah anak kucing, tiba-tiba terlintas di benak saya untuk memelihara mereka. Tapi, bahkan dalam mimpi sekalipun, saya tahu itu tidak mungkin.

*****

Karena saya memelihara ikan mas.

Keset teras sudah basah dipipisi, tinggal menunggu kedua anak kucing itu untuk membuang sesuatu yang lebih besar. Karena itu saya tidak memberi mereka makan, selain karena mereka pasti akan balik lagi kalau diusir. Tadinya saya berpikir mereka akan segera pergi, seperti yang terjadi dengan banyak orang dalam hidupku.

Tapi saat saya pulang pada malam harinya, mereka sudah tidak ada. Mungkin karena hujan cukup deras, jadi mereka berteduh di suatu tempat, berdua. Atau mungkin sudah dibuang oleh seseorang di rumah saya. Namun saat saya sibuk memasukkan gagang kunci ke pintu depan, seseorang memanggil saya dari belakang.

Seekor kucing kecil, berdiri menyambut sambil mengeong seolah ternotifikasi oleh kepulangan saya. Kemudian, satu lagi. Satu lagi saudaranya muncul dari kegelapan ikut menyambut seorang laki-laki yang bahkan tidak memberi mereka makan.

Walau terlihat jinak, mereka agak ragu saat akan saya usap-usap. Tapi akhirnya mereka berdua duduk di kursi teras, bergantian saya elus-elus. Dan kursi teras ini akan menjadi tempat mereka saling ‘berpelukan’ sampai akhirnya mereka tiada.

Saturday, March 01, 2008

Look! What Love has done to ye...

Aku punya teman, teman sepermainan. Dan dia jatuh cinta kepada seorang wanita.


Ini gambar orangnya. Aslinya sih tidak seganteng itu. Cuma beda dikit (jauuuuhh!!!)


Dan ini adalah si cewek yang 'beruntung' itu. Sudah dapat diduga: gebetan sejuta umat!!

Mereka kuliah di tempat yang sama, dan berkegiatan yang sama (toh, disitulah mereka bertemu). Mungkin juga sebetulnya si cewek menaruh hati kepada teman saya yang cukup gencar mendekatinya (gencar? kampanye parpol kalee...).

Hanya saja teman saya ini gazebo (baca: gak zelas bo'), sehingga lowongan pun terisi oleh banyak applicant yang ngapply. Toh, hanya shortlisted candidate will be informed for further tests.

Dan Saya, sebagai penengah, harus menerima kenyataan untuk terus dirong-rong dan direngek-rengeki oleh teman saya ini, karena kebetulan saya kenal gadis itu (padahal saya gak dibayar!).

Apabolehbuat, saya hanya bisa bilang: "Tralala... trilili..."


Tuesday, February 26, 2008

My Wonderful Journey in Australia

Tahun Baru lalu saya berlibur ke Australia bersama adik saya. Kami merayakan Natal & Tahun Baru disana, wuih baru kali ini merasakan Natal bersalju seperti di film-film. Di Australia dingin banget bo!

Disana, kami tidak hanya menetap di satu state, kami berpindah-pindah mulai dari Perth - ke Denmark - lalu ke Albania - ke Brisbane - lalu ke Sidney - lalu pulang melewati Denpasar.



Di atas adalah foto saya saat berada di Opera House pada malam hari, gedung berbentuk keong itu begitu indah, sampai2 suara sariosa itu terdengar sampai luar.



Ini foto saya bersama kangguru, lucu deh melihat mereka melompat2. Ada kangguru jantan yang lagi memasukkan anaknya ke kantung di perut lho!



Ini foto saya bersama koala. Mereka binatang yang pemalas sekaliii...!!! Disana saya memberi mereka makan daun mint (makanan favorit koala).



Di atas adalah foto saya bersama adik saya yang lucu, berlatar belakang kota Sidney di malam hari yang spektakuler!!!



Bule2 di sana ternyata very nice banget deh...!!!



Ini saat di Sidney Tower yang terkenal itu. Bangunannya tinggiiiiiiii..... sekali, sampai bisa liat Opera House dari atas situ deh.



Di atas adalah foto saya saat di Sidney Aquarium. Jauuuhh lebih bagus daripada Seaworld Jakarta lah! Ada ikan paus segala disana, tapi yang masih bayi.



Hal yang paling mengesankan adalah, saya duduk sebelah Dinna Olivia pas di PESAWAT!!!



Dan terakhir, saat di bandara, saya ketemu Muhammad Yunus!!! Sang peraih penghargaan Nobel!!! Langsung saya ajak foto deh!

Australia adalah benua yang menawarkan sejuta mimpi. Semua yang ada disitu eksotis, dan belum pernah kita lihat sebelumnya. Orang2 Aborigin disana begitu bahagia hidup berdampingan dengan orang2 keturuan Spanyol (persemakmuran). Orang2 bule-nya juga ramah2 begitu mengetahui saya berasal dari Indonesia. Mereka samasekali tidak mempermasalahkan agama saya apa dan apakah saya teroris atau bukan. Setiap saya bertemu mereka di jalan, mereka selalu akrab menyapa saya dengan teriakan, "Fuck you Moslems!!!"

Kalau kata adik saya itu artinya, "Selamat Datang di Australi!!!". Wah, benar2 negara yang ramah dan hangat, tidak sabar untuk kesana lagi kapan-kapan :)

Wednesday, February 13, 2008

Surat Saya untuk Masyarakat Film Indonesia

Masyarakat Film Indonesia (di antaranya adalah Riri Riza, Mira Lesmana, Nia Dinata, Shanty, dan Dian Sastrowardoyo) bilang, film Indonesia tidak akan bisa maju karena sensor dari LSF yang otoriter.

SALAH!!!

Saya yakin selama ini film Indonesia terhambat pertumbuhannya bukan karena LSF, tapi karena mayoritas sineas Indonesia:

- latah

- profit oriented dan bukannya ingin memberi pesan yang membangun

- tidak berani beresiko sehingga tidak total dalam membuat film (contoh: post-production house dianggap mahal dan hanya dipakai untuk iklan2, sehingga efek2 & animasi dalam iklan terlihat lebih bagus daripada efek2 dan animasi dalam film layar lebar)

- manja, tidak mampu kreatif menampilkan adegan yang simbolik atau “menampilkan sebagian untuk mewakili keseluruhan”, sehingga menyalahkan LSF untuk “merapikan” film mereka yang “berantakan”
Padahal, Hollywood sendiri sudah mulai sopan dalam film2 mereka. Tidak seperti dahulu, sedikit2 adegan telanjang, sedikit2 adegan seks.

- “Film-festival oriented”, sehingga film2 pun dibuat agar agak seragam dengan film-film yang ditayangkan di festival yang kebanyakan memang vulgar, bahkan sangat vulgar, untuk menarik perhatian juri festival film tersebut.

- terlalu terjebak oleh pujian “Film Indonesia itu eksotis” oleh orang2 luar. Padahal bagi orang Indonesia, tidak ada istilah “eksotis” bagi film2 yang berasal dari negara mereka sendiri.

- menganut paham modernisme yang salah. Berpikir bahwa gaya hidup modern berarti freesex. Padahal kota2 termodern di dunia seperti Israel melarang pemasangan billboard Lux yang terlalu mengekspos kulit sang bintang “Sex & the City”. Negara modern seperti Iran yang mampu membuat reaktor nuklir, memberi pinjaman lunak bagi pasangan2 muda untuk menikah, agar mereka tidak terjerumus ke dalam freesex. Australia sebagai salahsatu negara maju di dunia saja memprotes film “The Golden Compass” yang dianggap atheis dan menyudutkan agama Nasrani.

Saya hanya tidak ingin Indonesia ini menjadi negara yang sok demokratis, padahal negara2 pelopor demokrasi sendiri sudah membatasi rakyatnya demi kebaikan rakyat mereka sendiri.

Ada suatu fakta bahwa, volume belanja orang Indonesia (sebagai negara miskin-berkembang) terhadap barang mewah sudah melampaui volume belanja negara2 kaya-makmur seperti Inggris. Itulah Indonesia!


Monday, February 04, 2008

Dahulu di Surga



Aku paling suka melihat wajahmu, kamu lucu seperti kelinci
Aku merasa pernah melihatmu
Di surga kah?

Saat pipimu menggembung, saat kau berpura-pura sombong
Kalau aku menutup mataku aku pasti berbohong

Kutanyakan jalan kepadamu, “Apa kau tahu jalan yang tak berbelok?”
Kau menjawab, “Jalan yang berbelok lebih elok”, aku sudah tahu
Suaramu menggema aku sudah pernah dengar
Namamu renyah kusebut lincah kutulis

Aku merasa pernah mengenalmu,
Di surga kah?


(puisi buat seseorang)

Friday, November 02, 2007

Institut Teknologi Berburu


Di suatu desa yang sederhana, seseorang yang ahli berburu mengumpulkan anak-anak desa untuk diajari berburu.

Anak-anak desa itu begitu senang, beberapa dari mereka datang sambil membawa makanan dari rumah untuk sang guru ahli berburu sebagai rasa terimakasih. Bahkan ada yang membawa beras hasil panen untuk dipersembahkan kepada sang guru ahli berburu.

Pelajaran dimulai, mereka memasuki hutan bersama-sama. Sang guru yang ahli berburu mulai mengeluarkan busur yang ia miliki. Komat-kamit ia menceritakan kehebatan dirinya dalam berburu, lalu langsung menembak seekor kijang tepat sasaran. Semua anak desa bertepuk-tangan.

Setelah mengajari dasar dari berburu, sang guru ahli berburu meminta mereka untuk mencobanya. Dapat diduga, mereka semua payah, apalagi dengan tenaga anak kecil yang mereka miliki. Tapi, ada seorang anak yang berhasil memanah seekor harimau.

Semua melotot kagum, bahkan sang guru ahli berburu. Ternyata anak itu memang sudah sering latihan berburu bersama ayahnya. Dia iseng mengikuti pelatihan ini dengan harap bisa mendapatkan ilmu lebih.
Tiba-tiba sang guru ahli berburu berucap, “Kalau dia bisa, kenapa kalian tidak?!”. “Mulai sekarang kalian latihan sendiri, kalau ada apa-apa, baru panggil saya!!!”

Kalau ada apa-apa, kalau ada harimau memangsa seorang anak, baru panggil dia?

Anak-anak desa itu kecewa, wajah mereka terlihat sedih. Sang anak yang berhasil memanah harimau pun ikut kecewa karena tidak mendapatkan tambahan ilmu apa-apa dari sang guru ahli berburu. Beberapa ada yang pulang sambil menangis. Beberapa melanjutkan: ada yang telilit busur panah, ada yang memanah temannya sendiri, malah ada yang dimakan harimau.

Setiap mereka menanyakan sesuatu ke guru ahli berburu, sang guru malah menyalahkan mereka: “Kamu sih malas!”, “Coba kamu tanya ke ayahmu”, “Coba kamu tanya ke anak yang jago tadi”, “Tapi kamu bangga kan bisa belajar dari saya?”, “Sudahlah, yang penting kamu bisa pulang dengan selamat itu cukup…”

Di desa, sang guru ahli berburu berkoar-koar memamerkan muridnya yang berhasil menangkap harimau karena didikan dirinya. Ayah dari anak yang menangkap harimau itu diam saja. Sang guru ahli berburu juga berkata jika ingin anak kalian jago berburu harimau, datanglah padanya sambil membawa makanan dan sesajen.

Mungkin sejak awal, niat sang guru ahli berburu adalah mengumpulkan makanan dan sesajen dari anak-anak desa sekaligus memamerkan kehebatannya berburu… eh, berkoar-koar. Sungguh cerita yang menyedihkan dari desa yang sangat menyedihkan.

Tuesday, September 18, 2007

Sequen


Sequen adalah majalah tentang komik, yang berasal dari definisi komik oleh seorang pemerhati komik Amerika bernama Scott McCloud yang mengatakan bahwa komik adalah seni sequential.

Scott sendiri tidak membuat komik. Seperti halnya Hermawan Kartajaya atau Rhenald Khazali yang tidak mempunyai bisnis tapi menjadi konsultan bisnis. Bisa dibilang bisnis mereka adalah bisnis konsultan itu sendiri.

Saya tidak begitu menyukai ide tentang penggunaan definisi ini, karena saya mempunyai definisi sendiri terhadap komik. Apalagi penggunaan definisi ini sudah dianggap ilmiah. Saya benci yang ilmiah-ilmiah (untuk urusan seni). Relief pada dinding batu Candi Borobudur adalah seni sekuensial, tapi bukan komik.

Menurut saya, komik adalah "Bacaan yang didominasi gambar dalam panel sebagai bentuk lanjutan dari storyboard film yang dibuat sebagai pengganti film itu sendiri"

Sederhana kan? Apa, tidak?? (masa sih?!!!)

Melihat harganya, mahal: Rp.25.ooo. Sebandingkah dengan isinya? Tidak!

Tulisan2 yg terdapat di dalamnya terlalu opinis dan komik2 volunteer yang ditampilkan juga dibuat asal2an terkesan tak niat. Maklum, toh komik yang dimuat tidak menghasilkan uang. Majalah macam apa ini??

Jangan sampai majalah ini jadi kiblat bagi komikus Indonesia. Tapi apa daya sudah terlanjur: majalah ini menang sebagai majalah terbaik versi Kosasih Award.

Apa itu Kosasih Award juga saya tidak mengacknowledgenya karena saya tidak suka komik buatannya (R.A.Kosasih) yang saya bilang gambarnya jelek jujur saja ya maaf sekali (tanpa titik koma).

Maaf jika sekarang saya hanya bisa mengkritik dan mencaci. Tapi majalah ini memang asli payah.

Silence of the Lamb

Celaka!

Interview PT.ATEJA berlangsung pada hari pertama puasa! Jadi nggak bisa berbohong donk!!!!!!
Huehehehe ternyata gak perlu bohong juga interviewnya lancar kok. HRDnya malah nanyain kenapa gak kerja di stasiun TV, saya bilang ya karena eh karena belum ada lowongan tuch.

Tapi kalau terlalu jujur juga semua hal diomongin kayak muntah. Nah yg ini jangan sampai terjadi.

Masuk bulan puasa dibarengin dengan musim hujan. Bulan puasa membawa berkah. Hidup saya jadi lebih teratur: bangun pagi, sholat tepat waktu (berjamaah pula, pahalanya khan lebih gedhe), dsb. Entah kenapa jadi terasa lebih bahagia...

Teman saya bilang baru2 ini kembali merasakan deg2an hati berdebar2, padahal sudah lama ia tidak merasakannya. Memang bulan suci ini mengembalikan kesucian, kebersihan hati dan perasaan kita. Saya yakin akan hal itu. Lalu saya sendiri? Sudah kembali merasakan hati berdebar2 kah? Tampaknya belum :)


PT. ATEJA adalah perusahaan kain exportir terkenal di mancanegara

Thursday, August 30, 2007

Tale of the Three Brothers and The Deathly Hallows

Pada zaman dahulu kala di dunia penyihir, 3 bersaudara sedang melakukan perjalanan. Di tengah jalan, mereka terhalang oleh sungai lebar yang berarus deras. Karena kasihan melihatnya, Kematian muncul dalam bentuk personifikasi dan membantu mereka.

Untuk Sang Kakak – Antioch – yang suka bertarung, Kematian menghadiahkan tongkat sihir sakti yang terbuat dari kayu pohon Elder untuk memenangkan setiap pertarungan. Dengan tongkat barunya, Antioch mencoba menyeberangi sungai tersebut. Saat dia mulai terpeleset, Antioch tak kuasa mengayunkan tongkat sihirnya dengan benar sehingga ia pun terbawa arus. Antioch lalu mengulurkan tangannya meminta pertolongan kepada adik2nya yang lucu. Cadmus – Sang Adik – alih2 menarik tangan Sang Kakak, malah menarik tongkat yang dipegang Antioch. Sehingga tak pelak, Antioch pun hanyut terbawa arus sungai sementara tongkatnya selamat.

Kali ini giliran Cadmus – Si Anak Tengah – yang mencoba menyeberanginya. Cadmus adalah seorang sombong yang tidak suka menabung, dan dia ingin menipu Kematian. Kepada Kematian, Cadmus meminta Batu Resureksi… bukan, Batu Ereksi… bukan juga, Batu yang Dapat Menghidupkan Orang Mati. Nah…

Cadmus langsung mencobanya, dia berbisik di hadapan batu-hitam-jelek tersebut. Dan POF!!! Sang Kakak Antioch pun hidup kembali, dalam bentuk hantu. Antioch yang kesal karena kebodohan Cadmus barusan langsung mendorong Cadmus ke sungai tanpa basa-basi. Cadmus pun ikut hanyut terbawa arus sungai. Yang tersisa tinggal Si Bungsu Ignotus yang ternganga melihat kedua kakaknya main arung jeram gak ngajak-ngajak.

Si Bungsu tidak pemalas seperti kedua kakaknya, ia membuat rumah dari batu bata yang kokoh. Eh salah, ini sih cerita tiga babi kecil!!!

Untuk Si Bungsu – Ignotus – yang paling muda tapi paling bijaksana di antara mereka bertiga, Kematian ingin memberikan sesuatu. Tapi Ignotus menolak dengan serta-merta begitu mengetahui nasib kedua kakaknya. Ignotus menyeberangi sungai tersebut, dan mulai terseret arus. Dalam keadaan gelagapan, ia tak sengaja menarik jubah milik Kematian. Jubah itu adalah Jubah Takkelihatan, yang dapat membuat pemakainya tak terlihat. Ignotus pun hanyut dan mati sambil membawa jubah yang dia embat dari Kematian.

Esoknya, Kepolisian (Kepolisian dari dunia sihir tentunya) menemukan dua mayat di hilir sungai: mayat Antioch dan Cadmus. Sementara sampai sekarang mayat Ignotus tak pernah ditemukan. Begitulah cerita 3 bersaudara yang mendapatkan pemberian dari Kematian.